Senin, 24 Mei 2010

Paper Oseanografi biologi.

BAB I
PENDAHULUAN

Kalau mendengar kata rumput laut bayangan kita akan mengarah ke suatu bentuk tumbuhan seperti rumput yang ada di laut. Gambaran tersebut sesungguhnya sama sekali salah dan tidak saling berhubungan. Rumput laut adalah tumbuhan yang tidak dapat dibedakan antara bagian akar, batang dan daun. Semua bagian tumbuhannya disebut THALLUS. Karena bentuknya seperti rumput terutama yang berukuran besar dan hidupnya di laut, maka orang awam terutama kaum usahawan menyebutnya rumput laut.
Di kalangan ilmuwan rumput laut dikenal dengan nama ALGAE.Studi pemanfaatan rumput laut telah dilaksanakan di Indaonesia.Misalnya Pemanfaatan rumput laut terutama untuk bahan obat-obatan bagi manusia bukanlah barang yang baru. Namun beberapa penemuan dari para peneliti dalam tahun-tahun akhir ini menunjukkan peningkatan yang luar biasa. Pemanfaatan rumput laut bagi dunia pengobatan pertama kali dikenal di daratan Cina sekitar tahun 2700 BC (sebelum masehi). Kemudian bangsa Jepang, Filipina dan Asia Tenggara termasuk Indonesia mengenal rumput laut tidak sekedar sebagai salah satu sumber bahan makanan, namun menggunakan rumput laut sebagai bahan obat-obatan tradisional
Dalam bahasa inggrisnya biasa disebut dengan seawead bukan seagrass (seagrass adalah lamun). Seawead atau yang kita sebut sebagai rumput laut memiliki beberapa kalas yang harus kita pahami, sehingga memudahkan dalam identifikasi di lapangan dan setiap spesies memiliki beberapa ciri morfologi yang harus kita ketahui.

Di kalangan ilmuwan rumput laut dikenal dengan nama ALGAE dan berdasarkan ukurannya dibedakan dua golongan yaitu MIKRO-ALGAE dan MAKRO-ALGAE. Kedua kelompok algae tersebut sebagian besar hidup di laut. Mereka yang hidup di laut ada yang melekat di dasar laut atau melayang-layang mengikuti gerakan arus laut. Kelompok tumbuhan ini mempunyai peranan yang sangat besar di lingkungan laut, karena hanya merekalah yang dapat menghasilkan oksigen yang sangat dibutuhkan oleh semua penghuni laut. Nah marilah kita satukan persepsi kita, bahwa dalam tulisan ini kita gunakan istilah rumput laut sebagai keterangan dari algae yang hidup di laut. Sehingga bayangan kita akan sama bila menyebut rumput laut. “.(http://www.Iptek.net.Id/varitek/Budidaya-perikanan-idx.php?doc=3a3)
Pemanfaatan rumput laut terutama untuk bahan obat-obatan bagi manusia bukanlah barang yang baru. Namun beberapa penemuan dari para peneliti dalam tahun-tahun akhir ini menunjukkan peningkatan yang luar biasa. Pemanfaatan rumput laut bagi dunia pengobatan pertama kali dikenal di daratan Cina sekitar tahun 2700 BC (sebelum masehi). Kemudian bangsa Jepang, Filipina dan Asia Tenggara termasuk Indonesia mengenal rumput laut tidak sekedar sebagai salah satu sumber bahan makanan, namun menggunakan rumput laut sebagai bahan obat-obatan tradisional. “.(http://www.Iptek.net.Id/varitek/Budidaya-perikanan-idx.php?doc=3a3)
Selama tahun 1700-an orang mulai mengenal soda dan potasium yang dihasilkan dari rumput laut yang disebut KELP. Jenis rumput laut ini juga sebagai bahan mentah penting penghasil Yodium. Phykokoloid terutama agar dikenal orang beberapa dekade yang lalu. Jepang pada tahun 1662 sampai menjelang PD I memonopoli produksi agar ini.
“.(http://www.Iptek.net.Id/varitek/Budidaya-perikanan-idx.php?doc=3a3)
Sebelum para ilmuwan memusatkan perhatian pada penelitian tentang penggunaan rumput laut dibidang farmasi, masyarakat yang tinggal di sekitar pantai telah lama mengenal rumput laut sebagai bahan obat-obatan tradisional untuk mengobati penyakit gondok, penyakit ginjal, anthelmintic, catarrch dll. Dan akhir-akhir ini telah ditemukan pemanfaatan phykokoloid selain agar yang sangat berguna bagi dunia farmasi. Dan jenis-jenis tersebut terkandung banyak dalam berbagai jenis rumput laut. Rumput laut tersebut tergolong dalam kelompok :
* Rumput Laut Merah
* Rumput Laut Coklat
* Rumput Laut Hijau
Penggolongan rumput laut kedalam ketiga golongan tersebut didasarkan pada perbedaan kandungan pigmen dari masing-masing kelompok.Ketiga rumput laut di atas telah di manfaatkan bagi dunia farmasi ditemukan oleh para peneliti, maka banyak rumput laut yang dikenal dalam dunia pengobatan dan hal ini menambah wawasan dalam dunia pengobatan tradisional yaitu rumput laut coklat. “.(http://www.Iptek.net.Id/varitek/Budidaya-perikanan-idx.php?doc=3a3)
Rumput Laut Coklat
Hampir semua alga coklat hidup di laut,hanya sedikit yang hidup di air tawar.Alga coklat merupakan kelompok alga terbesar ukurannya di antara kelompok-kelompok alga laut. Kelas alga ini mempunyai bentuk dan ukuran yang beranekaragam.Ada yang berupa tumbuh-tumbuhan bercabang berbentuk benang kecil halus (ectocarpus),ada yang berbentukrantai sosis yang kopong dan kasar dan panjangnya 30 cm atau lebih (scytosiphon),ada yang bertangkai pendek dan bertalus lebar (laminaria,costariadan alaria)ada yang bentuknya bercabang banyak (focus,agregia) dan dari pasifik terdapat alga beukuran raksasa dengan tangkai yang panjang daunnya seperti kulit yang panjang (macrocystis,nereocystis,pelagophycus).
Alga coklat ada yang membentuk padang ganggang (kelp bed) di laut lepas.dilihat dari bentuknya,alga coklat adalah yang termaju diantar semua tumbuhan thalus.
(Romimohtarto,1988)
Daur hidup alga coklat ini mencakup berbagai tipe pergantian generasi.dalam kelompok alga coklat,fucales(focus dan sargasum),tumbuh-tumbuhan utamanya adalah sporofit,didalam irbuan koseptakel berbentuk cawan yang sangat kecilyang membentuk kantug udara,gamet membentuk spora.Mereka bersatu setelah disebarkan bebas di air.Jadi pergantian generasi haya nyata secara sitologik.Menarik unutk dicatat bahwa pmijahan focus seirama dengan pasut,trjadinya pada saat air surut, yakni setelah alga muncul di atas air.
(Romimohtartu,1988).
Alga coklat berkembang dengan baik di perairan dingin, karenanya alga ini khas daerah pantai berbatu di daerah lintang tinggi.Sedangkan sargasum dan alga lain dari ordo fucales merupakan alga dari perairan tropik dan subtropik.Beberapa jenis atau varietas dari sargasum terdapat dalam jumlah besar di laut Sargasso.alga di laut ini berasal dari daerah pantai.saat mereka terpatah dari induknya, mereka hanyut ke laut lepas dan berkembang disana.Mereka terus mengapung dengan bantuan kantung udara dan tumbuh secara vegetatif,perkembangbiakan secara fragmentasi,tetapi tidak membentuk “fruiting body”.Massa sargasum mengaung ini membentuk lingkungan yang khas dengan asosiasi-asosiasi,termauk asosiasi dengan alga lain dan hewan-hewan yang mempunyai lingkungan hidup di daerah litoral.
(Romimohtarto,1992)
Alga merah
Hampir semua alga merah adalah tumbuh-tumbuhan laut.diantara kelompok alga laut,alga meah sangat mencolok dalam hal warna.beberapa diantara nya bercahaya.banyak dari jenis-jenis yang kecil sekali ukurannya merupakan benda-benda mikroskopik yang indah.Pigmen-pigmen dari kromatofor terdiri dari klorofil,santofil,karotin,sedikit fikoeritrin dan kadang-kadang fikosianin.warna-warni tumbuhan ini berkaitan dengan kemampuan mensintesis secara efisien pada cahaya yang redup pada perairan yang jeluk.
(Romimohtarto,1988)
Daur hidup beberpa jenis alga merah sangat majemuk.pada bentuk-bentuk yang lebih tinggi tingkatannya tirade pergantian generasi secara morfologik yang teratur. Salah satu yan menarik dari perkembangbiakan alga merah ini adalah sama sekali tiadanya spora atau gamet berenang yang berbulu getar atau bercambuk.Hal ini membuat penyebaran dan pertemuan intim antara sel-sel perkembangbiakan tergantung pada arus,dan karenanya semua tergantung dari faktor kesempatan atau keberuntungan.
Alga merah luas sebarannya,tetapi terbanyak di daerah beriklim sedang.Sebaran menegaknya menunukan alga ini menginginkan cahaya yang redup.beberapa alga merah terdapat di mintakat pasut,tetapi pertubuhan yang subur terdapat di mintakat bawah pasut.dilaut mediterania dapat dijumpai pada kedalaman 130 m. Diperiran tropik,alga umumnya terdapat di daerah bawah litoral yang mana cahaya sangat berkurang.Di Indonesia terdapat 17 marg a terdiri dari 34 jenis.Alga ini mempunyai nilai ekonomi dan diperdagangkan yang di kelompokan sebagai komoditi rumput laut.
(Romimohtarto,1988)
a. Chlorophyceae (Alga hijau)
Chlorophyceae merupakan kelompok alga yang berwarna hijau rumput. Sel-selnya mengandung satu sampai beberapa buah kloroplas. Pigmen fotosintetik yang terdapat di dalam plastida terdiri dari klorofol a dan b yan jumlahnya sangat banyak sehingga menutupi pigmen lainnya yaitu karoten dan xantofil sehingga algae ini berwarna hijau. Contoh : Caulerpa sp. Codium sp, Halimeda sp.
(Soenardjo,2001)
Algae kelas ini juga mempunyai bentuk yang sangat beragam, tetapi bentuk umum yang dijumpai adalah bentuk filamen (seperti benang) dengan septa (sekat) atau tanpa sekat, dan berbentuk lembaran.
(Romimohtarto,2001)
Perkembangbiakan seksual sebagai berikut isi dari suatu sel biasa tumbuhan yang pipih dan berlapis dua membentuk sel kelamin yang disebut gamet berbulu getar dua. Setelah gamet lepas ke air mereka bersatu berpasangan dan melalui pembelahan sel berkembang menjadi tumbuhan baru yang dikenal dengan sporofit,tetapi biasanya melalui fase benang dulu.
(Romimohtarto,2001)
Perkembangbiakan dapat juga secara aseksual. Setiap sel biasa dari tumbuhan zoospore berbulu getar empat. Zoospora ini setelah dilepas tumbuh langsung menjadi gametofit yakni tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan gamet. Perkembangbiakan aseksual dapat pula terjadi dengan fragmentasi yang membentuk tumbuhan tak melekat.
(Romimohtarto,2001)
Sebaran alga hijau terdapat terutama di mintakat litoral bagian atas, khususnya di belahan bawah dari mintakat pasut,dan tepat di daerah bawah pasut sampai kejelukan 10 meter atau lebih, jadi di habitat yang mendapat penyinaran matahari bagus. Alga dari kelas ini terdapat berlimpah di perairan hangat (tropik). Di laut kutub Utara, alga hijau ini lebih jarang ditemukan dan bentuknya kerdil.
(Romimohtarto,2001)








BAB II
PEMBAHASAN

Akhir-akhir ini banyak industri memproduksi berbagai bahan yang bahan mentahnya berasal dari rumput laut. Produk industri terpenting dari rumput laut adalah phycocolloid dari Rumput Laut Merah dan Rumput Laut Coklat. Phycocolloid dari kedua kelompok rumput laut tersebut sangat dibutuhkan industri sebagai larutan emulsi, gelling, stabilisator, suspensi dan bahan pembeku/perekat.
Istilah "Phycocolloid" telah didifinisikan pertama kali oleh Tseng sebagai polisakarida yang kompleks dari Rumput laut Merah dan Rumput laut Coklat, yang membentuk sistem colloidal ketika dilarutkan dalam air. Bentuk water-soluble-polysaccharida merupakan bagian utama dari polisakarida pada Rumput laut. Kemudian istilah Polisakarida berkembang menjadi lebih spesifik dalam berbagai bidang ilmu. Percival dan Mc-Dowell mendiskripsikan lebih detail polisakarida dari Rumput laut secara kimiawi dan enzimologi.
Polisakarida yang utama dan penting dari golongan Rumput laut Merah adalah Agar dan Karagenan. Kedua polisakarida ini banyak dimanfaatkan di berbagai bidang industri. Oleh karena itu mereka mempunyai nilai secara ekonomis cukup tinggi. Dan permintaan dunia akan kedua polisakarida tersebut dari tahun ketahun mengalami peningkatan.
Berikut beberapa contoh pemanfaatan Rumput Laut :
Agar.
Dari berbagai jenis Rumput laut Merah, hanya beberapa jenis saja yang bernilai ekonomis tinggi, karena dapat menghasilkan agar. Jenis-jenis tersebut adalah :
• Acanthopeltis japonica, terdapat di daerah pantai Asia Timur.
• Ahnfeltia plicata, terdapat di pantai Laut White, Sakhalin, Pulau-pulau di Korea dan Jepang.
• Gelidium amansii, terdapat di pantai perairan Jepang, Korea dan Cina, kandungan phycocolloidnya 25-30 % dari berat keringnya.
• Gelidium cartilagineum, terdapat di Pantai California, Mexico dan Afrika Selatan, kandungan Phycocolloidnya 40-45% dariberat keringnya.
• Gelidium corneum, terdapat di pantai Atlantis dari Spanyol, Portugis dan Maroko.
• Gelidium coulteri , banyak digunakan di USA
• Gelidium japonicum, terdapat di perairan Jepang dan Korea.
• Gelidium lingulatum, banyak dijumpai di Chili, kandungan phycocolloidnya 18-23 %.
• Geldium nudifrons, banyak digunakan di USA.
• Gelidium pacificum, banyak dijumpai di perairan Jepang.
• Gelidium spinulosum, banyak di perairan Maroko, ± kandungan Phycocolloidnya 33 % dari berat keringnya.
• Gelidium pusillum, dari pantai Saurashtra (India) dapat dipertimbangkan sebagai sumber produksi agar juga. Penelitiannya sudah dilakukan dan hasil kandungan agarnya 24 %.
• Gelidium robustum mensuplai dalam jumlah terbesar untuk bahan mentah produksi agar di USA. Penelitian tentang manajemen sumberdayanya dan faktor ekloginya telah banyak dilakukan. Rumput laut ini banyak ditemukan dari Central California hingga Central Baja California.
• Gelidium floridanum, species Gracilaria terutama Gracilaria debilis, Pterocladia capillacea banyak ditemukan di perairan Brasilia. Species Gelidium dan agarophyte lainnya banyak dibudidayakan terutama di perairan Jepang.
Gracilaria.
Yang terpenting dari l00 species lebih pada Gracilaria adalah G. confervoides (terdapat di pantai laut Hindia, Asia Timur dan Amerika) dan G. lichenoides (pantai laut Hindia). Pada jenis ini dan beberapa species Gracilaria lainnya telah diselidiki oleh beberapa ahli rumput laut. Jumlah kandungan phycoccoloid nampak tergantung pada pengaruh faktor lingkungannya, waktu pemanenan, dll. Fenomena tsb membedakan antara 15 dan 30 % dari berat keringnya. Sebagai contoh; kandungan dan kualitas agar dari budidaya Gracilaria edulis di pantai India dilaporkan oleh Thomas dan Krishnamurty. Matsuhashi dan Hayashi melaporkan juga produksi agar dari G. foliifera yang dipanen di sepanjang pantai Florida barat. Perubahan musiman, kimiawi dan reproduksi pada G. foliifera dari New Hampshire juga telah diteliti. Pterocladia lucida digunakan orang untuk menghasilkan agar di wilayah Australia, Tasmania, New Zealand, Jepang. Begitu juga Pterocladia capillacea dapat diolah untuk menghasilkan agar.
Namun begitu dilain pihak hingga kini juga sedikit yang diketahui dan diteliti untuk menjamin basis bahan mentah agar tersebut. Artinya belum ada sebuah speciespun yang diyakini sebagai yang terbaik untuk menghasilkan bahan mentah agar. Bahan mentah agar tersebut sering dihasilkan bercampur dengan jenis rumput laut merah lainnya.
Hingga kini banyak negara yang telah mengolah Rumput laut Merah ini untuk menghasilkan agar, yaitu di kawasan Eropa (Portugal dan Spanyol), Afrika (Maroko), Asia (Jepang, India, Korea dan Rusia). Selain itu juga di USA dan Chile. Negara Chile merupakan negara penghasil utama agar.
Kata "Agar" dulunya sering disebut sebagai "agar-agar", yaitu sebuah ekstrak bentuk gel (baca Jelly) dari jenis Rumput laut merah tertentu, Agarophytes. Agaroid adalah ekstrak lainnya dari jenis Rumput laut Merah lainnya pula yang disebut agaroidophytes. Agaroidophytes ini berbentuk berbeda dengan agar dan lebih lunak dari pada gel. Penamaan "agar-agar" digunakan oleh penduduk asli dari kawasan Melayu dan sebetulnya ditujukan untuk istilah dari Eucheuma.
Variasi agar secara kimiawi dan fisik banyak sekali tergantung pada bahan mentahnya. Selby dan Selby melaporkan secara detail ttg bahan mentah, proses, tingkatan dan tipe spesifikasi, struktur, pemanfaatan dan penggunaan agar. Pada Simposium Internasional rumput laut 1965 di Halifax, Araki telah melaporkan juga ttg masalah polisakarida dari agarophyte. Pengujian agar telah menunjukkan bahwa suatu campuran yang terdiri dari agarose dan agaropektin dalam berbagai variasi proporsinya tergantung pada sumber bahan mentahnya.
Pada tahun 1971 di Sapporo-Jepang, Yaphe dan Duckworth merefisi hasil penelitian Araki pada analisis struktural dari agarose dan agaropektin dan hubungannya antara struktur dan pemanfaatan secara biologis pada agar. Young dkk juga melaporkan tentang enzymis hidrolisis dari agar dan pemanfaatan dari uji bakteri pada agarose. Niziwa dan Sasaki memaparkan dalam komposisi dinding sel dari algae, sebuah sinopsis dalam bentuk tabulasi tentang presentase komposisi dari agarose dan agaropektin dari beberapa Rumput laut Merah. Kandungannya berbeda antara satu jenis dengan jenis lainnya.
Pemanfaatan utama dari agar adalah "melting point "nya yang tinggi. Dalam dunia farmasi agar digunakan sebagai laxative untuk constipation yang kronis, sering dengan penambahan obat-obatan anthraquinone, sebagai motor obat serta sebagai substrat untuk kultur bakteris agar juga memainkan pernanan yang penting.Agar juga bekerja sebagai stabiliser untuk emulsi, constituent of ointment, lotion, dll. Hawkins dan O'Neill melaporkan bahwa granuloma akan muncul setelah diinjeksi dengan agar. Menurut Gerber dkk, agar dan juga karagenan melindungi embrio ayam melawan infeksi yang disebabkan virus influense B dan mump-virus. Satu hal yangmenarik di lapangan dari pemanfaatan agar ini adalah inokulasi dari Jagung pada budidaya Claviceps purpurea. Agar juga dimanfaatkan dalam dunia Kedokteran Gigi. Dalam pratikum di laboratorium agar dimanfaatkan secara optimal untuk beberapa penelitian. Agar juga dimanfaatkan dalam dunia tehnologi pangan dan industri.
Agarose.
Penggunaan agarose dalam Immunologi adalah yang sangat menarik sekali. Agarose gel telah membuktikan lebih banyak digunakan daripada agar gel yang tidak terfraksionasi, karena kandungan sulfat yang rendah dan sebab memberikan gel yang jernih. Guiseley melaporkan tentang viscometric determination dari agarose. Ahli Virologi dan Bakteriologi memerlukan produk agar dengan titik didih yang rendah.
Karagenan.
Bahan mentah yang terpenting untuk produksi Karagenan adalah carrageenate dan derivatnya (turunan) seperti Chondrus crispus dan berbagai macam species Gigartina, khususnya Gigartina stellata dan juga Eucheuma serta species Hypnea. Selain itu sumber bahan mentah lainnya adalah Chondrococcus hornemannii, Halymenia venusta, Laurencia papillosa, Sarconema filiforme dan Endocladia, Gelidium tertentu, Gymnogongrus, Rhodoglossum, Rissoella, Yatabella species dan Rumput laut Merah lainnya.
Chondrus.
Chondrus crispus sering ditemukan bercampur dengan Gigartina stellata. Kedua species tsb sebagian besar dipanen dan diproses bersama-sama dan dikenal dalam perdagangan sebagai "Carrageenan" atau "Irish Moss" . Chondrus crispus banyak ditemukan dalam berbagai bentuk.
Pada awal abad 19 bahan mentah karagenan diimport ke USA dari Eropa. Meskipun pada tahun 1835, rumput laut ini banyak melimpah diatas bebatuan di pantai dari Massachusetts hingga Newfoundland. Stoloff menyelediki bahan mentah ini secara komprehensif. MacFarlane telah mempublisikasikan sebuah sinopsis dari Chondrus crispus dengan detail sekali tentang rumput laut ynag penting ini dan Taylor telah menulis tentang biologi dan ekologi rumput laut ini.
Sementara itu pengetahuan lebih lanjut tentang rumput laut ini dikembangkan dengan pekerjaan secara khusus dengan keaslian dan pemanfaatan karagenan. Disamping kappa dan lamda karagenan juga terdapa beberapa fraksi karagenan lainnya.
Studi ekologis dalam hubungannya dengan potensi marikultur dari Chondrus crispus telah didiskusikan oleh Mathieson dan Tveter. Pemanfaatan derivasi gelling nampak dalam fase tetrasporfit dan gametofit. Fraksi non-gelling lamda-karagenan nampak dalam tanaman tetrasporofit. McCandless dan Craigie telah menyelidiki produksi karagenan, sedang Simpson dkk mengamati efek pH pada pertumbuhan dan produksi karagenan tersebut. Suatu metode pengembangbiakan di dalam tangki dengan air laut yang mengalir juga telah dikembangkan.
Species Chondrus lainnya seperti Chondrus canaliculatus dari pantai di Jepang dapat juga dikaitkan dengan bahan mentah dari karagenan.
Gigartina.
Gigartina adalah suatu genus yang banyak anggotanya (diperkirakan 90 species) dan sejumlah dari mereka dapat digunakan sebagai bahan mentah karagenan, sebagai contoh Gigartina stellata. Kandungan kappa-karagenan dapat dibandingkan dengan yang dari Chondrus crispus .
Gigartina acicularis, G. asperifolia, G. canaliculata, G. chamissoi, G. cristata, G. decipiens, G. pistillata, G. radula, G. serrata, G. skottsbergii, G. stiriata dan jenis lainnya mengandung karagenan juga.
Eucheuma.
Species Eucheuma nampak di area pantai Asia Tenggara dan pantai Afrika Timur. E. muricatum dikenal dalam perdagangan sebagai "Rumput laut Singapura", E. serra dan E. cottonii dijual dan dikenal sebagai "Rumput laut Zanzibar ".
"Eucheuman" diekstrak dari kedua kelompok rumput laut tersebut. Hasilnya dikenal sebagai agaroid. Bahan mentahnya sering digunakan sebagai bahan tambahan dari bahan mentah agar atau untuk produksi karagenan.
Pada suatu konteks penggunaan "eucheuman" terdapat kesalahan antara agar dan karagenan.Dalam penerapannya terutama kandungan media air dan "jelly" pada dunia obat-obatan, industri kosmetika dan teknologi pangan. Akhir-akhir ini sejumlah Eucheuma telah banyak diteliti agar supaya ditemukan bahan mentah baru karena peningkatan pasar akan karagenan. Cheyney dan Dawes melaporkan tentang studi ekologis dari Eucheuma disepanjang pantai Florida terutama Eucheuma nudum.
Lima buah bentuk karaganenan yang telah diketahui adalah kappa-, lambda-, my-, ypsilon- dan jota-karagenan. Bentuk-bentuk ini berbeda dalam tingkat kandungan sulfatnya dan rasio galaktosa terhadap 3,6-anhydrolactose, namun begitu juga berbeda pada pemantaannya secara fisik. Bentuk dari perairan Pasifik adalah E. cottonii, E. procrusteanum, E. serra, E. spinosum, E. striatum yang mengandung kappa-karagenan murni. Sedangkan E. odontophorum mengandung campuran dari kappa- dan jota-karagenan. Jenis E. uncinatum mengandung persilangan bentuk dari jota dan ypsilon-karagenan. E. gelidium, E. isiforme, E. nudum dari perairan Karabia mengandung sebuah bentuk "deviant" dari jota-karagenan.
Dawes dkk telah melaporkan tentang studi fisiologis dan bio-kimiawi pada jota-karagenan yang diproduksi Eucheuma uncinatum dari Teluk California. Ciri "khas" jota-karagenan dari rumput laut ini berbeda dari "deviant" jota-karagenan yang ditemukan dalam E. isiforme, E. nudum, E. gelidium dan E. acanthocladum yang berasal dari Florida dimana kandungan tingkat sulfatnya lebih rendah. Hasil kandungan karagenan dari species Eucheuma yang berasal dari Tanzania telah dideterminasi oleh Mshigeni dan Semesi.
E. spinosum mengandung kurang lebih 72,8 % dengan puncak absorpsi (pa) pada jota-karagenan. E. striatum kurang lebih 69 % dengan pa pada kappa-karagenan. E. platycladum kurang lebih 65 % dengan pa pada jota-karagenan. E. okamurai kurang lebih 58 % dengan pa pada kappa-karagenan dan E. speciosum f. mauritianum 54 % dengan pa pada jota-karagenan.
Beberapa species Eucheuma telah dibudidaya karena permintaan akan karagenan yang meningkat. Dalam tahun 1968 pada the 13th Session of the Indo-Pacific Fisheries Council permasalahan budidaya E. muricatum (=E. spinosum) dan E. edule telah dibahas. Percobaan pertama telah memberikan hasil yang nyata. Doty dan Alvares melaporkan tentang produktifitas budidaya Eucheuma. Hasil anhydrous bersih dari E. edule mengandung kurang lebih 50 % kappa-karagenan. Di Filipina terdapat kurang lebih 700 buah area budidaya rumput laut ini pada tahun 1973. Mereka mengekspor lebih dari 100 ton berat kering Eucheuma per bulan. Ricohermoso dan Deveau melaporkan bahwa sekarang terdapat lebih dari 1000 area budidaya Eucheuma di daerahini dan produksinya lebih dari 300 ton perbulan untuk pasar dunia. Sedangkan Doty dan Santos mengatakan tentang studi komparatif secara morfologi dan informasi kimiawi gel pada 14 species Eucheuma.
Hypnea.
Hasil ekstrak dari species Hypnea terutama Hypnea musciformis dikenal sebagai "hypnean" yang berbentuk gel yang paling stabil. Hal ini sering dipertimbangkan menjadi jenis khusus dari agar tetapi sangat kecil diketahui tentang struktur kimiawi dari agar tsb, kecuali yang mirip dengan karagenan yang mengandung fraksi kappa dan lambda. Akhir-akhir ini species Hypnea telah lebih diamati, sehingga sekarang rumput laut ini merupakan bahan mental utama untuk menghasilkan karagenan.
Studi tentang penyiapan dan pemanfaatan phycocolloid dari H. musciformis asal pantai Gujarat (India) telah dilakukan. Rama Rao dan Krishnamurty melaporkan pada waktu itu bahwa ditemukan hal yang sama dimana Hypnea dapat dijadikan sumber agar. Tetapi proses pembuatannya mesti dimodifikasi. Studi tentang siklus pertumbuhan dan kandungan phycocolloid (diperkirakan 24 %) dari H. musciformis juga telah dilakukan. Dari hasil penelitiannya dapat disarankan bahwa waktu panenan rumput laut ini sebaiknya dilakukan pada bulan Januari hingga Maret. H.musciformis asal Pantai Barat India telah diteleiti Rama Rao. Sedangkan variasi musiman pada kandungan phyococolloid telah dilaporkan oleh Rama Rao dan Krishamurthy.
Mollon mempublikasikan survey awal dari species Hypnea asal Senegal : H. musciformis, H. cervicornis dan H. ceramioides. Rumput laut ini adalah bahanmentah untuk phycocollloid yang mirip terhadap karagenan dari Chondrus crispus dengan fraksi kappa dan lambda. H. musciformis terdapat melimpah di sepanjang pantai Brasil. Oliviera Filho dan Mshigeni melaporkan studi perkembangan pada H. cervicornis dan H. chordacea serta kemungkinan budidaya dari Hypnea. Mereka mengatakan dalam pendahuluannya suatu perbaikan yang menarik dari permasalahan peningkatan permintaan industri akan karagenan sebagai gelling, stabiliser, pelarut atau pengelmusi dalam farmasi, industri pangan dan kosmetika modern.
Penelitian tentang perubahan musiman pada biomasa dari H. cervicornis, H. chordacea dan H. nidifica di Hawai telah dilakukan oleh Mshigeni. Pengetahuan tentang perubahan musiman adalah aspek penting untuk rumput laut berpotensi ekonomis guna memutuskan kapan panenan secara komersial dapat dilakukan dan menguntungkan secara ekonomis. Rama Rao meneliti hal tersebut di kepulauan Selatan India untuk H. valentiae . Variasi musiman dalam kandungan phycocolloid telah diteliti Rama Rao dan Krishnamurty. Studi budidaya dari H. valentiae telah direalisasi oleh Mshigeni dan Lorri. Monograph tentang Hypnea ditulis oleh Mshigeni dan Mshigeni dan Mziray. H. cervicornis, H. nidifica, Chondrus crispus dan species Gymnogongrus yang banyak di Hawaii telah diteliti untuk kandungan karagenannya oleh Santos dan Doty. Dan akhir-akhir telah banyak penelitian dilakukan untuk mendapatkan karagenan.
Phycocolloid dari Chondrococcus hornemannii asal dari pantai Tanzania telah diteliti oleh Semesi dan Mshigeni. Kandungan karagenan diperkirakan 45 % dari berat keringnya terutama lambda-karagenan. Mshigeni juga meneliti struktur dinding sel dari rumput laut ini.
Phycocolloid dari Halymenia venusta yang tersebar di pantai Timur Afrika telah dipelajari oleh Semesi dan Mshigeni. Phycocolloid yang ditemukan mirip karagenan yang dekat dengan lambda- dari pada kappa-karagenan. Kandungan total karagenan adalah kurang lebih 60 % dari berat kering.
Genus Laurencia kelihatannya menarik juga sebagai sumber phycocolloid. Kandungan phycocolloid dari L. papilosa asal pantai Tanzania telah diamati. Hasilnya diperkirakan mengandung 33 % dengan kebanyakan lambda-karagenan. Sedangkan phycocolloid dari Sarconema filiforme asal Tanzania juga telah diamati oleh Semesi dan Mshigeni. Hasilnya diperkirakan mencapai 35 % dari berat keringnya. Phycocolloidnya menunjukkan sifat yang khas yaitu menyerap jota-karagenan.
USA adalah produsen terbesar karagenan, kemudian diikuti Canada. Perancis, Inggris dan Norwegia juga memproduski dan mengekspor karagenan.
Karagenan adalah ekstrak yang tidak berubah dari karagenofit. Carrageenate adalah garam tertentu dari asam karagenik. Karagenan adalah hidrokoloid yang mengandung sulfat tinggi. Susunan kimia, fraksinasi, dll dari karagenan telah diamati oleh banyak ahli. Stoloff memberikan kesimpulan dalam laporannya "Industrial Gums". Karagenan khususnya dari Chondrus crispus dan beberapa jenis Rumput laut Merah dapat dipisahkan mejadi 2 fraksi, yaitu yang diperkirakan mengandung 40 % kappa-karagenan dan lainnya kurang lebih mengandung 60 % lambda-karagenan. Kandungan sulfat dalam kappa-karagenan adalah 23-28 % dan lambda-karagenan adalah 24-33%. Menurut penelitian Springer dan Middendorf, fraksi kappa-karagenan berhubungan ekstrak dengan air panas dan lambda-karagenan berhubungan ektrak dengan air dingin.
Schmitt mendiskusikan rumus molekul dan pemanfaatan fisio-kimiawi dari karagenan dan kepentingannya terhadap praktek aplikasinya. Gel strength dan temperatur gelation dapat bervariasi antara batas yang kecil hingga sesuai tujuan untuk produk yang akan digunakan. Produknya diperoleh dalam berbagai tingkatan viscositas, kualitas gelating dan non-gelating.
Studi sintesis karagenan dan analisis biokimia dilaporkan oleh McCandless dan Richter, McCandless dan Craigie dan Wong. Studi lainya tentang karagenan didiskusikan di Bangor tahun 1974 dan juga Gordon-Mills dan McCandless melaporkan tentang kappa-dan lambda-karagenan di dalam dinding sel dari Chondrus crispus, serta Bowtle dan Anderson tentang deteksi dan determinasi karagenan dalam media biologi. Disamping kappa- dan lambda-karagenan fraksi selanjutnya dapat ditemukan, sebagai contoh jota- dan ypsilon-karagenan. Determinasi dari jota-karagenan dideskripsikan oleh Anderson dan Bowtle.
Karagenan sering kali digunakan dalam industri farmasi sebagai pengemulsi (sebagai contoh dalam emulsi minyak hati), sebagai larutan granulation dan pengikat (sebagai contoh tablet, elexier, sirup, dll). Jurnal menarik tentang aplikasi karagenan dalam terapi borok (sesuatu yang bernanah) telah dipublikasikan. Percobaan pada hewan dan penelitian terhadap pengaruh dekompisisi karagenan untuk gastrik bernanah yang akut dengan positif efek telah didiskripsikan oleh Anderson dan Soman. Distribusi berat molekul dari karagenan diteliti oleh Stanley dan Renn. Disebutkan bahwa depolimerisasi yang tinggi dari jota-karagenan digunakan sebagai obat dalam terapi gastrik yang bernanah, yang mungkin tidak mempunyai efek fisiologis sampingan.
Hawkins dan Leonard melaporkan tentang aktifitas antithrombosit dari karagenan dalam darah manusia. Schneider telah menyarankan pentingnya Chondrus sebagai penghasil karagenan untuk terapi penyakit dari pembuluh darah. Studi tentang karagenan juga telah dilaporkan oleh Tanaka dkk dengan penekanan pada reaksi pengikatan timah dan ion logam berat. Timah ditemukan menjadi salah satu logam loncatan yang sangat efektif oleh karagenan dan fucoidan. Paskins-Hurburt, Tanaka dan Skoryna juga mendiskusikan karagenan dengan pengikatan dari timah. Karagenan digunakan juga dalam industri kosmetika sebagai stabiliser, suspensi dan pelarut. Produk kosmetik yang sering menggunakan adalah salep, kream, lotion, pasta gigi, tonic rambut, stabilizer sabun, minyak pelindung sinar matahari, dll.
Selain itu ada beberapa kemungkinan dari aplikasi karagenan dalam industri teknologi pangan dan telah banyak dilakukan penelitian-penelitian yang berkaitan dengan masalah ini. Selain tehnik ynag berkualitas, karagenan itu juga digunakan dalam industri kulit, kertas, tekstil, dll.
Berikut tabel persebaran dan pemanfaatannya :
Nama
Rumput Laut Sebaran Manfaat
I. RHODOPHYCEAE
Acanthophora specifera Kep. Kangean, Lombok, Flores, Sumba, P.Alor Pickle (Acar), salad
Bostrychia radicans Barat dan Selatan Jawa, Lampung Selatan, P.Damar, Kep.Tanimbar Salad, sayuran sop dengan santan kelapa
Caloglosa leprieurii Solor, Alor, Wetar Salad, sayuran sop dll.
Caloglosa adnata Kep.Selatan Kalimantan, Alor, Wetar Sayuran sop dengan minyak kelapa sebagai vermifuges
Catenella nipae Kalsel, Kep. Aru, Utara Irian Jaya Salad, sayuran sop dengan minyak kelapa
Catenella impudica Utara Jawa, Madura, Kep. Kangean Sop sayuran dengan santan kelapa dan salad
Corallopsis salicomi Bali, Tel. Maumere, Kep. Solor, Kep. Riau, Kep. Tanimbar Salad, pickle, sayuran sop
Eucheuma edule Kep. Riau, Kep. Seribu, Madura, Kep. Kei, Kep. Tanimbar Pemanis agar, bahan dasar karaginan
Eucheuma gelatine P. Sumba, Alor, Kep. Kei, Kep. Tanimbar Pemanis agar, bahan dasar karaginan, bahan ganti goiter, batuk asma, bronchitis
Eucheuma horridum Kep. Kei, Tanimbar, P.Rote, Sumba Sayuran sop dan bahan dasar karaginan
Eucheuma Muricatum Kep. Riau, Kep. Bangka, Belitung, Kep. Seribu, Flores, Sumba, Kep. Tanimbar Pemanis agar, bahan asar karaginan
Eucheuma spinosum (E.denticulatum) Tersebar dan banyak dibudidayakan Bahan dasar iota-karaginan, pickle, sayuran sop, pemanis agar, salad dengan kelapa parut dan saus
Eucheuma cottonii (kapaphycus alvarezii) Tersebar dan banyak dibudidayakan Bahan dasar iota-karaginan, pickle, sayuran sop, pemanis agar, salad dengan kelapa parut dan saus
Gelidium amansii Kep. Alor, Kep. Tanimbar, Kep. Maluku Bahan dasar agar-agar, pemanis agar-agar dan obat sakit perut
Gelidium rigidum Tersebar Bahan baku agar, manisan agar-agar
Gelidium latifolium Bengkulu, Lampung, Selatan Jawa, Kep. NTT Bahan dasar agar-agar, pemanis agar-agar, obat sakit perut
Gracilaria confervoides Menyebar Bahan agar-agar, salad
Gracilaria crasaa Jawa Barat, Sulawesi Selatan Salad, sayuran sop
Gracilaria blodgetii Jawa Barat, Jawa Timur, Lombok, Kep. Sumba Salad, sayuran sop
Gracilaria arcuata Jawa Barat, Lombok, Sumbawa, Sumba, P.Sawu Salad, sayuran sop
Gracilaria verucosa Sumbawa Barat, P. Sewu, sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara Bahan agar-agar, pemanis agar-agar, bahan anti gangguan perut, gondok, penyakit kandungan kemih
Gracilaria euchenoides Lampung Selatan, Selatan Jawa, Sulawesi Tenggara, Maluku Selatan, Maluku Tenggara Bahan agar-agar, salad, sop sayuran, pemanis agar-agar, bahan anti sakit perut, gondok, obat penyakit kandung kemih
Gracilaria lichenoides Tersebar Bahan agar-agar, salad, pickle, pemanis agar-agar
Gracilaria gigas Tersebar Bahan agar-agar, salad, pickle, pemanis agar-agar
Gracilaria taenoides Kep. Riau, Belitung, Bangka, Lampung Bahan agar-agar, salad, pickle, pemanis agar-agar
Gelidiopsis filicina Barat dan Selatan Jawa, Lampung Selatan, Kep. Seribu Salad, sayuran sop, pickle, pemanis agar-agar dan fermivuges (obat cacing)
Halymenia durvilliae Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Kep. Ambon, Seram, Irian, NTT, Lombok, Sumbawa, Halmahera Bahan pemanis agar-agar, salad, pickle
Hypnea cenomyce Kep. Riau, Kalimantan Selatan, Kep. Sulu Salad, Sayuran sop
Hypnea cervicomis Kep. Riau, Bali, Tawi -Tawi Pemanis agar-agar dengan santan kelapa, salad
Hypnea divacirata Kep. Riau, Timor, Kep. Maluku Salad, Sayuran sop dengan santan kelapa, pemanis agar-agar
Hypnea musciformis Menyebar Pemanis agar-agar
Laurencia obtusa P. Lingga, Kep. Riau, P. Bangka Salad, sayuran sop, bahan anti gangguan perut
Porphyra atropurpurae Halmahera, Kei Pemanis agar-agar dengan santan kelapa, sayuran sop, bahan anti gondok, obat saluran kencing, busung lapar
Rhodymenia palmata Menyebar Salad, sayuran sop
Sarcodia montagneana Riau, Lingga, Bangka, Selatan Jawa, Lombok, Flores, Timor, Ambon, Kep. Seram Sayuran sop, Salad, pickle
II. CHLOROPHYCEAE
Acetabularia mayor Jawa Barat, Kep. Seribu Bahan anti scrofula (penyakit kelenjar pencahar)
Caulerpa peltata Bangka, Kep. Seribu, Sulawesi Tenggara Sayur sop dengan santan kelapa, salad
Caulerpa racemosa laeferens Bali, Kai, Seram, Kep. Damar Salad, sayuran sop, pickle
Caulerpa racemosa plavifera Tersebar Salad, sayuran sop
Caulerpa racemosa unifera Kep. Riau, Sulawesi, Buru, Rote Salad, sayuran sop, pickle
Caulerpa serrulata Kalimantan Timur, Sulawesi, Timor, Maluku, Selatan Irian Salad, sayuran sop, pickle
Caulerpa sertularoides Menyebar Salad, sayuran sop, pickle
Caulerpa crasa Kep. Seribu, Lampung Selatan Salad, pemanis agar-agar
Caulerpa javanica Selatan Jawa, Kep. Seribu, Ambon, Seram Salad, sayuran sop, minyak kelapa
Codium tenue Sulu, Ambon, Halmahera Salad, sayuran sop, fermivuges
Codium tomentosumtenue Tersebar Salad, sayuran sop, fermivuges
Enteromorpha compressa Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Lombok, Sumba, Flores Salad, sayuran sop, obat penyakit gondok, batuk, asthma, anti pyretik, bronchitis, cairan penyegar
Enteromorpha intestinalis Utara Jawa, Lampung, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara Salad, sayuran sop, gondok, pencegah sengatan matahari
Enteromorpha prolifera Kep. Seribu, Lampung Selatan, Bali, Lombok, Flores Sayuran sop, anti pyretic, obat batuk
Ulva lactuca Sulawesi, Lombok, Sulu, Kei, Sumba, Banda, Solor, Jawa Barat, Lampung Selatan Salad, sayuran sop, anti pyretik, obat bisul, obat penyakit kantung kemih, untuk obat mimisan
III. PHAEOPHYCEAE
Dictyota apiculata Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara Salad
Hydroclathrus clathratus Kalimantan, Jawa, Timor, Sumbawa Salad, pickle
Padina australis Kep. Riau, Lampung Selatan, Selatan Jawa, Sumbawa, Sumba, Ambon, Tanimbar, Kai, Aru, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Lombok, Flores Sayuran sop, pemanis agar dengan santan kelapa
Sargassum aquifolium Tersebar Bahan alginat, sayuran sop, pemanis agar, bahan obat penyakit kantung kemih, gondok, kosmetik
Sargassum polycystum Tersebar Bahan alginat, sayuran sop, pemanis agar, bahan obat penyakit kantung kemih, gondok, kosmetik
Sargassum silqousum Selatan Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Kep. Aru, Kei, Tanimbar Bahan dasar alginat, pemanis agar-agar, salad, anti pyretik, pengobatan gondok
Turbinaria ornata Tersebar Salad, sayuran sop dengan santan kelapa
Turbinaria conoides Tersebar Salad, sayuran sop dengan santan kelapa

Sumber : ANGGADIREDJA et.al. (1996)


















BAB III
PENUTUP
Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari sebagian artikel dari buku yang berjudul Marine Algae in Pharmaceutical Science. Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih belum sempurna, oleh karena itu bila ada kritik dan masukan yang membangun akan dengan senang hati penulis menerimanya. Semoga tulisan ini berguna bagi yang membutuhkannya.



















DAFTAR PUSTAKA

Bold.C.Harold and Wynne J.Michael.1985 . Introduction to the Algae. Second edition.
Heinz A.Hoppe, Tore Levring and Yukio Tanaka. 1979. Marine Algae in Pharmaceutical Science. Walter de Gruyter. Berlin. 1979.
Nybakken,J.W.1992.Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis.Gramedia : Jakarta
Rumimohtaro, Kasijan.1988 . Botani Laut.Gramedia . Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar