Selasa, 15 Juni 2010

Laporan OSeanografi Biologi Kel 3

BAB I
PENDAHULUAN

1.Latar Belakang
Ekosistem terumbu karang (coral reef) merupakan salah satu yang sangat komplek, kaya, dan produktif dari ekosistem laut dan hal ini terlihat dari daerah coastal di dunia. Sekarag
Terumbu karang menghadapi berbagai masalah yang disebabkan beruubahnya pola eksploitasi sumber daya alam dari tradisional kea rah modern yang berdampak pada kehidupan coral. Lebih lanjut peningkatan aktifitas mabusia dalam perairan yang dapat meningkatkan coral mengalami stresss, rusak dan kehancuran.
Faktor yang sangat penting dalam mengontrol komposisi dari komunitas coral adalah ketersediaan cahaya, aksi dan gelombang, kandungan sedimen, inorganic nutrient dan pasang surut. Pada ukuran broader (larva) ketersediaan makanan dan anorganik nutrient, temperature dan topografi dari dasar laut juga sangat penting bagi pertumbuhan coral.
Kenekaragaman coral ada setelah mengalami tahapan keseimbangan ekologi, tidak hanya keseimbangan antara coral tersebut tetapi juga antara coral dengan organisme lain seperti sea urchins dan algae: ikan herbivore dan makro algae. Makroalgae tersebut bias tumbuh dengan cepat dan dapat menutupi coral bila tidak dikontrol oleh predatorny. Setiap spesies coral mempunyai aturan alam dan strategi pertumbhan, kebutuhan makanan dan reproduksi. Masing-masing mempunyai respon sendiri-sendiri dan pengerusakan oleh badai atau predator, penyakit hama, masing- masing spesies bersaing mendapatkan ruang, cahaya dan sumber-sumber lain, oleh karena itu diversity terbesar dari corals dapat terlihat pada reef.

2.Tujuan
1.Mengidentifikasi biota-biota yang hidup pada ekosistem rumput laut
2.Mengetahui tingkat keanekaragaman dan dominasi biota di ekosistem terumbu karang
3.Mengetahui hubungan/interaksi keterkaitan antara biota yang ditemukan dengan ekosistem terumbu karang
4.Mampu menganalisa faktor pertumbuhan dari biota yang terdapat pada ekosistem terumbu karang.
5.
3.Manfaat
Agar para praktikan dapat mengetahui bermacam-macam keanekaragaman biota yang hidup di laut dan dapat mengetahui keberadaan organisme yang berada di ekosistem terumbu karang.

4.Waktu dan Tempat
Praktikum Lapangan
Hari / Tanggal : Senin, 31 Mei 2010
Pukul : 06.00 – 09.30
Tempat : Pantai Teluk Awur Jepara

Praktikum Laboratorium
Hari / Tanggal : Senin, 31 Mei 2010
Pukul : 16.00 – 20.00
Tempat : Laboratorium Basah Kampus Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Teluk Awur, Jepara
















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Biologi Karang
Terumbu karang adalah struktur di dasar laut berupa deposit kalsium karbonat di laut yang dihasilkan terutama oleh hew an karang. Karang adalah hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam Filum Coelenterata (hew an berrongga) atau Cnidaria. Yang disebut sebagai karang (coral) mencakup karang dari Ordo scleractinia dan Sub kelas Octocorallia (kelas Anthozoa) maupun kelas Hydrozoa. Lebih lanjut dalam makalah ini pembahasan lebih
menekankan pada karang sejati (Scleractinia). Satu individu karang atau disebut polip karang memiliki ukuran yang bervariasi mulai dari yang sangat kecil 1 mm hingga yang sangat besar yaitu lebih dari 50 cm. Namun yang pada umumnya polip karang berukuran kecil. Polip dengan ukuran besar dijumpai pada karang yang soliter.

2.1.2 Anatomi Karang


Anatomi Polip Karang
Karang atau disebut polip memiliki bagian-bagian tubuh terdiri dari :
mulut dikelilingi oleh tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa dari perairan sertasebagai alat pertahanan diri.
rongga tubuh (coelenteron) yang juga merupakan saluran pencernaan (gastrovascular)
dua lapisan tubuh yaitu ektodermis dan endodermis yang lebih umum disebut
gastrodermis karena berbatasan dengan saluran pencernaan.
Di antara kedua lapisan terdapat jaringan pengikat tipis yang disebut mesoglea. Jaringan ini terdiri dari sel-sel, serta kolagen, dan mukopolisakarida. Pada sebagian besar karang, epidermis akan menghasilkan material guna membentuk rangka luar karang. Material tersebut berupa kalsium karbonat (kapur). Bertempat di gastrodermis, hidup zooxanthellae yaitu alga uniseluler dari kelompok Dinoflagelata, dengan w arna coklat atau coklat kekuning-kuningan. Mengapa zooxanthellae ada dalam tubuh karang, kemudian apa perannya serta bentuk hubungan seperti apa yang ada antara karang dan zoox akan dibahas lebih lanjut pada bagian Asosiasi Zooxanthellae dengan karang. Karang dapat menarik dan menjulurkan tentakelnya. Tentakel tersebut aktif dijulurkan pada malam hari, saat karang mencari mangsa, sementara di siang hari tentekel ditarik masuk ke dalam rangka.

2.1.3 Cara Makan
Karang memiliki dua cara untuk mendapatkan makan, yaitu
1. Menangkap zooplankton yang melayang dalam air.
2. Menerima hasil fotosintesis zooxanthellae.
Ada pendapat para ahli yang mengatakan bahwa hasil fotosintesis zooxanthellae yang
dimanfaatkan oleh karang, jumlahnya cukup untuk memenuhi kebutuhan proses respirasi
karang tersebut (Muller-Parker & D’Elia 2001). Sebagian ahli lagi mengatakan sumber
makanan karang 75-99% berasal dari zooxanthellae. Ada dua mekanisme bagaimana mangsa yang ditangkap karang dapat mencapai mulut:
1. Mangsa ditangkap lalu tentakel membaw a mangsa ke mulut
2. Mangsa ditangkap lalu terbawa ke mulut oleh gerakan silia di sepanjang tentakel

2.1.4 REPRODUKSI & PERTUMBUHAN KARANG
Karang memiliki kemampuan reproduksi secara aseksual dan seksual.
Reproduksi aseksual adalah reproduksi yang tidak melibatkan peleburan gamet jantan
(sperma) dan gamet betina (ovum). Pada reproduksi ini, polip/koloni karang
membentuk polip/koloni baru melalui pemisahan potongan-potongan tubuh atau
rangka. Ada pertumbuhan koloni dan ada pembentukan koloni baru
Reproduksi seksual adalah reproduksi yang melibatkan peleburan sperma dan ovum
(fertilisasi). Sifat reproduksi ini lebih komplek karena selain terjadi fertilisasi, juga
melalui sejumlah tahap lanjutan (pembentukan larva, penempelan baru kemudian
pertumbuhan dan pematangan).

2.1.5 Habitat Terumbu Karang
Terumbu karang pada umumnya hidup di pinggir pantai atau daerah yang masih terkena cahaya matahari kurang lebih 50 m di bawah permukaan laut. Beberapa tipe terumbu karang dapat hidup jauh di dalam laut dan tidak memerlukan cahaya, namun terumbu karang tersebut tidak bersimbiosis dengan zooxanhellae dan tidak membentuk karang.
Ekosistem terumbu karang sebagian besar terdapat di perairan tropis, sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan hidupnya terutama suhu, salinitas, sedimentasi, Eutrofikasi dan memerlukan kualitas perairan alami (pristine). Demikian halnya dengan perubahan suhu lingkungan akibat pemanasan global yang melanda perairan tropis di tahun 1998 telah menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching) yang diikuti dengan kematian massal mencapai 90-95%. Selama peristiwa pemutihan tersebut, rata-rata suhu permukaan air di perairan Indonesia adalah 2-3 °C di atas suhu normal.

2.1.6 Manfaat Terumbu Karang
Terumbu karang mengandung berbagai manfaat yang sangat besar dan beragam, baik secara ekologi maupun ekonomi. Estimasi jenis manfaat yang terkandung dalam terumbu karang dapat diidentifikasi menjadi dua yaitu manfaat langsung dan manfaat tidak langsung.
Manfaat dari terumbu karang yang langsung dapat dimanfaatkan oleh manusia adalah :
sebagai tempat hidup ikan yang banyak dibutuhkan manusia dalam bidang pangan, seperti ikan kerapu, ikan baronang, ikan ekor kuning), batu karang,
pariwisata, wisata bahari melihat keindahan bentuk dan warnanya.
penelitian dan pemanfaatan biota perairan lainnya yang terkandung di dalamnya.
Sedangkan yang termasuk dalam pemanfaatan tidak langsung adalah sebagai penahan abrasi pantai yang disebabkan gelombang dan ombak laut, serta sebagai sumber keanekaragaman hayati.

2.1.7 Zonasi terumbu karang
Zonasi terumbu karang (Coral Reef Zonation) berdasarkan hubungannya dengan paparan angin terbagi menjadi dua , yaitu:
Windward reef (terumbu yang menghadap angin)
Windward merupakan sisi yang menghadap arah datangnya angin. Zona ini diawali oleh reef slope atau lereng terumbu yang menghadap ke arah laut lepas. Di reef slope, kehidupan karang melimpah pada kedalaman sekitar 50 meter dan umumnya didominasi oleh karang lunak. Namun, pada kedalaman sekitar 15 meter sering terdapat teras terumbu atau reef front yang memiliki kelimpahan karang keras yang cukup tinggi dan karang tumbuh dengan subur. Mengarah ke dataran pulau atau gosong terumbu (patch reef), di bagian atas reef front terdapat penutupan alga koralin yang cukup luas di punggungan bukit terumbu tempat pengaruh gelombang yang kuat. Daerah ini disebut sebagai pematang alga atau algal ridge. Akhirnya zona windward diakhiri oleh rataan terumbu (reef flat) yang sangat dangkal (//http:Wikipedia.com).

Leeward reef (terumbu yang membelakangi angin)
Leeward merupakan sisi yang membelakangi arah datangnya angin. Zona ini umumnya memiliki hamparan terumbu karang yang lebih sempit daripada windward reef dan memiliki bentangan goba (lagoon) yang cukup lebar. Kedalaman goba biasanya kurang dari 50 meter, namun kondisinya kurang ideal untuk pertumbuhan karang karena kombinasi faktor gelombang dan sirkulasi air yang lemah serta sedimentasi yang lebih besar (//http:Wikipedia.com).





2.2 Distribusi/Penyebaran Karang
2.2.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi
Distribusi karang sangat dipengaruhi faktor-faktor lingkungan yang sangat mempengaruhi penyebaran larva karang. Faktor-faktor tersebut ada yang berpengaruh positif dan berpengaruh negatif. Faktor lingkungan yang berpengaruh positif terhadap pertumbuhan larva karang antara lain adalah: arus, sinar matahari, suhu perairan, kejernihan air dan dasar laut keras.Arus berperan sangat penting bagi kehidupan karang. Arus tidak hanya membantu penyebaran larva karang, oksigen dan makanan, melainkan juga menyebarkan air hangat yang sangat diperlukan untuk pengembangan alat reproduksi dan pembuatan kerangka dari kapur bagi karang batu.
Perairan yang jernih dan sinar matahari erat kaitannya dengan proses fotosintesis zooxanthella yang membantu karang batu dalam pembentukan kerangka dari kapur. Sedangakan dasar keras diperlukan bagi penempelan larva karang batu yang siap membentuk koloninya.
Faktor lingkungan yang berpengaruh negatif atau menghambat bahkan merusak kehidupan larva karang antara lain adalah: bencana alam seperti taupan, gempa, tsunami dan Elnino; faktor antropogenik (yang berasal dari ulah manusia) termasuk sedimentasi, pencemaran laut oleh limbah (domestik dan indistri), akibat kegiatan manusia secara langsung seperti penggunaan bom dan obat beracun untuk menangkap ikan di terumbu karang, penambangan karang dan pemasangan bubu di terumbu karang; faktor biologi seperti adanya predator pemakan polip karang (Munasik,2009)

2.2.2 Distribusi Larva
Beberapa jenis karang fertilisasi antara gamet jantan dan gamet betina dapat terjadi di luar dan di dalam tubuh induk. Larva karang yang dilepaskan dapat bertahan dalam beberapa jam hingga bulan, karena mempunyai tetes-tetes lemak yang dapaat dipakai sebagai cadangan makanan. Larva yang terbetuk akan berenang-renang sebelum menempel pada substrat tertentu. Larva bergerak mengapung pada daerah pelagik dan digerakkan oleh arus selama beberapa jam, hari, ataupun beberapa bulan. Larva karang dapat bergerak sampai jarak
1 – 1000 km. Jarak dan pola distribusi larva dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mempengaruhi lama waktu larva mengapung sampai mencapai terumbu, yaitu:
1. Perilaku larva: kecepatan renang dan kemampuan directional.
2. Jangka waktu Larva: sejumlah larva menghabiskan waktu di lautan terbuka tergantung pada spesies larvanya. Antara beberapa jam sampai beberapa bulan dan jangka waktu larva pelagic secara umumnya adalah 28 – 35 hari.
3. Sumber makanan: sejumlah makanan tersedia selama jangka waktu pelagik.
4. Pemangsa: pemangsa mempengaruhi survival saat masa pelagik, kondisi larva, dan laju pertumbuhan.
5. Pengaruh faktor oseanografi lainnya.
Larva planula akan dapat melanjutkan ke tahap penempelan pada dasar perairan bila kondisi substrat mendukung seperti: cukup kokoh tidak ditumbuhi alga, arus cukup untuk adanya makanan , penetrasi cahaya cukup agar zooxanthella bisa tumbuh, dan sedimentasi rendah. Banyak faktor yang mempengaruhi penyebaran karang di dunia, salah satu faktornya adalah ketahanan hidup dari fase larva karang sehingga mempengaruhi penyebaran yang jauh dan terdapat larva yang hanya bertahan dalam hitungan jam dan menyebar berkembang di dekat induknya( Suharsono, 1996).
2.2.3 Waktu Distribusi
Reproduksi seksual karang karang menghasilkan larva planula yang berenang bebas dan bila larva itu menetap di dasar maka akan berkembang menjadi koloni baru. Karang mencapai dewasa seksual pada usia antara 7-10 tahun. Karang dapat bersifat hermafrodit atau dioecius. Pembuahan umumnya terjadi di dalam gastrovaskuler induk betina, sperma dilepaskan ke dalam air dan akan masuk di dalam ruang gastrovaskuler. Telur-telur yang dibuahi biasanya ditahan sampai perkembangannya mencapai stadium larva planula. Planula dilepaskan dan berenang dalam perairan terbuka untuk waktu yang tidak dapat ditentukan, tetapi mungkin hanya beberapa hari, sebelum menetap dan memulai suatu koloni baru. Bila larva dewasa akan menetap di suatu tempat, larva planula merupakan alat penyebar dari berbagai spesies karang.
Waktu spawning karang menjadi penting karena berkaitan erat dengan kelangsungan kehidupan suatu jenis karang. Kesesuaian waktu spawning dengan kondisi arus samudra saat itu akan menentukan penyebaran larva karang dan distribusi karang. Penentuan waktu spawning suatu jenis karang sangat dipengaruhi oleh proses perkembangan gonad karang pada setiap jenis karang ( Suharsono, 1996).
2.2.6 Metode Penyebaran
Untuk mengetahui cara menyebar dari larva karang, sebelum itu harus diketahui terlebih dahulu mengenai pengertian dari larva karang. Larva karang adalah larva planula hasil pembentukan secara seksual dari koloni karang, baik itu pembuahan secara internal maupun secara eksternal. Setelah mengenal sedikit tentang larva karang, larva karang memiliki sifat-sifat bawaan sesuai dengan induknya masing-masing antara lain adalah kecepatan renang dan kemampuan menuju ke arah tertentu sesuai dari jenis spesies masing-masing (anonima,2009). Dari sifat larva yang diketahui, sehingga dapat diketahui bahwa larva pada jenis karang tertentu akan menempel pada tipe karakteristik perairan tertentu. Misal pada larva yang akan menjadi terumbu karang bertipe massive akan memilih perairan yang memiliki sedimentasi rendah, berbeda dengan terumbu karang yang memiliki brenching lifeform yang dapat hidup di daerah dengan sedimentasi yang cukup tinggi dan umumnya menempel pada substrat yang berbentuk wall ( Suharsono, 1996).







BAB III
MATERI DAN METODE

3.1 Materi
Mengidentifikasi Terumbu Karang Yang Ada Di Teluk Awur, Jepara
Mengidentifikasi Jenis Biota Yang Terdapat Pada Ekosistem Terumbu Karang


3.2 Metode
3.2.1 Alat dan Bahan
Transek kuadran 1x1m
Sabak/alat pencatat
Alat tulis
Skin Dive
Botol Sampel

3.3 Langkah Kerja
Lakukan “Rapid Assement” untuk menentukan dimana lokasi yang memiliki ekosistem terumbu karang.
Catat kedalaman
Buat gambar kontur melintang ekosistem, mulai dari garis pantai hingga lokasi ditemukannya ekosistem terumbu karang.
Letakkan transek dan catat apa saja yang terdapat dalam subtransek tersebut (family karang, invertebrate lain, ikan, substrat).


Sketsa Transek
A1
A2
A3
A4
A8
A7
A6
A5
A9
A10
A11
A12
A16
A15
A14
A13

Amati dan gambar jenis biota yang terlihat pada tiap-tiap subtransek
Lakukan pengulangan sebanyak 3x
Deskripsikan zonasi ekosistem katang (terumbu)
Catat aktivitas manusia yang ada di sekitar ekosistem tersebut
Catat parameter biologi (pH, salinitas dan suhu) dan oseanografi pasut
Foto setiap jenis biota yang ditemukan




















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

1.HASIL
Hasil yang di dapat pada transek yaitu :
Stasiun I
A1 : karang mati dan pasir
A2 : pasir
A3 : karang mati
A4 : karang mati
B1 : karang mati
B2 : karang mati
B3 : death coral algae
B4 : porites
C1 : pasir
C2 : platygyra
C3 : karang mati
C4 : Gardineroseris
D1 : pasir
D2 : karang mati
D3 : karang mati
D4 : karang mati, pasir

Stasiun II
A1 : lamun
A2 : lamun, karang mati
A3 : lamun, karang mati
A4 : lamun, Death coral algae, karang mati, Gardineroseries
B1 : death coral algae, karang mati
B2 : karang mati
B3 : karang mati, ikan karang
B4 : porites
C1 : lamun
C2 : karang mati
C3 : karang mati
C4 : karang mati, pasir
D1 : karang mati
D2 : karang mati
D3 : death coral algae, karang mati
D4 : lamun, favia

Stasiun III
A1 : lamun, sand, porites
A2 : sand, lamun, karang mati
A3 : lamun, sand, porites
A4 : karang mati, lamun, sand
B1 : sand, lamun, karang mati
B2 : karang mati, lamun
B3 : sand, lamun
B4 : death coral algae, karang mati
C1 : karang mati, lamun
C2 : karang mati, lamun
C3 : karang mati
C4 : death coral algae
D1 : karang mati, lamun
D2 : karang mati, lamun
D3 : favia, death coral algae
D4 : sand, karang mati




Porites (Familia Poritidae) Gardineroseries

Platygyra Nudibranch


Lamun Favia





Gastropoda death coral algae









Zonasi Ekosistem terumbu karang







2.PEMBAHASAN
2.1.Porites
Kingdom : Animalia
Phylum : Cnidaria
Class : Anthozoa
Order : Scleractinia
Suborder : Fungiina
Family : Poritidae
Genus : Porites
Beberapa karakteristik bentuk rangka kapur dari genus Porites yaitu :
Bentuk koloni ada yang flat (foliaceous atau encrusting), masif atau bercabang.
Koloni yang masif berbentuk bulat ataupun setengah bulat.
Koloni massif yang kecil akan terlihat berbentuk seperti helm atau dome-shaped, dengan diameter dapat mencapai lebih dari 5 m.
Koralit berukuran kecil, cekung ke dalam (terbenam) pada badan koloni dengan lebar Calice kurang dari 2 mm.
Tentakel umumnya keluar pada malam hari.
Porites ini mirip dengan genus Montipora dan Stylaraea, namun memiliki beberapa perbedaan. Perbedaan antara Porites dengan Montipora ialah bahwa Porites memiliki bentuk pertumbuhan yang lebih beragam, koralit pada Porites lebih besar, kokoh dan tidak ada elaborate thecal (perpanjangan dinding koralit). Genus Montipora mempunyai dua tipe coenosteum, yaitu reticulum papillae dan tuberculae. Selain itu, Porites memiliki koralit yang umumnya selalu terlihat septanya, sementara Montipora hanya memiliki perpanjangan gigi septa yang menonjol keluar sehingga terasa runcing dan kasar bila tersentuh.

2.2.Gardineroseries
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Cnidaria
Classis : Anthozoa
Subclassis : Hexacorallia
Ordo : Scleractinia
Subordo : Fungiina
Familia : Agariciidae
Genus : Gardineroseris
Gardineroseris bentuk koloni besar atau encrusting, meskipun tepi koloni dapat membentuk bagian foliose. Umumnya tidak ditemukan dalam kondisi keruh.
Tidak seperti Coeloseris, corallites memiliki dinding tidak jelas dan duduk secara individu atau gumpalan dalam depresi yang berbeda pada permukaan koloni. Setiap depresi dipisahkan oleh punggungan, yang tajam tipis, tinggi, membentuk tidak teratur, penggalian sudut. Baik aliran septocostae dari satu corallite ke produksi berikutnya pola bunga-seperti di atas permukaan koloni, seperti dalam Pavona dan Leptoseris. Kurangnya dinding corallite dan mengalir septocostae adalah tipikal dari Agariciidae keluarga.

2.3.Platygyra
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Cnidaria
Class : Anthozoa
Family : Faviidae
Genus : Platygyra
Biasanya membentuk besar, berbentuk kubah atau piring-seperti struktur sampai satu meter atau lebih dengan diameter, para koloni dari lamellina Platygyra akan dibahas dalam pola seperti labirin ridges cokelat tebal, atau dinding, dan abu-abu atau hijau depresi, yang dikenal sebagai lembah. Namun, seperti di banyak spesies karang yang terkait, mungkin ada berbagai dalam koloni bentuk. Karang koloni terdiri dari kecil,-seperti binatang anemon, yang dikenal sebagai polip , yang mengeluarkan kerangka karang keras. Dalam spesies Platygyra, yang polip dinding saham biasa dengan polip 'mulut' selaras di lembah-lembah, dan polip sendiri tidak dapat diidentifikasi secara individual. Para polip tentakel biasanya hanya diperpanjang pada malam hari
Habitat
Karang ini ditemukan dalam berbagai lingkungan terumbu karang tropis, terutama pada margin terumbu belakang dan di laguna.

Biologi
Platygyra adalah zooxanthellate, berarti ia telah mikroskopis alga yang hidup di dalam jaringan tersebut. Sebagai imbalan untuk menawarkan alga yang stabil, lingkungan yang dilindungi, karang yang kaya nutrisi menerima energi bahwa ganggang menghasilkan melalui fotosintesis . Meskipun ini memungkinkan karang untuk tumbuh lebih cepat dan membentuk struktur terumbu yang besar, itu membatasi untuk tinggal di jelas, dangkal, air hangat dimana fotosintesis dapat berlangsung. karang dapat suplemen diet dengan menit zooplankton , tertangkap menggunakan sel penyengat di tentakel.
Karang koloni dapat tumbuh melalui bentuk reproduksi aseksual yang dikenal sebagai pemula , di mana polip dibagi untuk membentuk baru polip . Karang juga dapat mereproduksi secara seksual, memproduksi sejumlah besar sperma dan telur lamellina Platygyra. Adalah hermaprodit , yang berarti bahwa setiap polip baik menghasilkan telur dan sperma . Spesies ini dilaporkan untuk bertelur sekali setahun, antara bulan Juli dan Agustus, melepaskan sperma dan telur selama bulan baru . Telur-telur dibuahi berkembang menjadi larva , yang perjalanan di kolom air sebelum menetap dan berkembang menjadi polip.

2.4.Lamun
Lamun didefinisikan sebagai satu-satunya tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang mampu beradaptasi secara penuh di perairan yang salinitasnya cukup tinggi atau hidup terbenam di dalam air dan memiliki rhizoma, daun, dan akar sejati. Beberapa ahli juga mendefinisikan lamun (Seagrass) sebagai tumbuhan air berbunga, hidup di dalam air laut, berpembuluh, berdaun, berimpang, berakar, serta berbiak dengan biji dan tunas.
Anatomi yang khas dari daun lamun adalah ketiadaan stomata dan keberadaan kutikel yang tipis. Kutikel daun yang tipis tidak dapat menahan pergerakan ion dan  difusi karbon sehingga daun dapat menyerap nutrien langsung dari air laut. Air laut merupakan sumber bikarbonat bagi tumbuh-tumbuhan untuk penggunaan karbon inorganik dalam proses fotosintesis.
Karena pola hidup lamun sering berupa hamparan maka dikenal juga istilah padang lamun (Seagrass bed) yaitu hamparan vegetasi lamun yang menutup suatu area pesisir/laut dangkal, terbentuk dari satu jenis atau lebih dengan kerapatan padat atau jarang. Sedangkan sistem (organisasi) ekologi padang lamun yang terdiri dari komponen biotik dan abiotik disebut Ekosistem Lamun (Seagrass ecosystem). Habitat tempat hidup lamun adalah perairan dangkal agak berpasir dan sering juga dijumpai di terumbu karang.
Ekosistem padang lamun memiliki kondisi ekologis yang sangat khusus dan berbeda dengan ekosistem mangrove dan terumbu karang. Ciri-ciri ekologis padang lamun antara lain adalah :
1.Terdapat di perairan pantai yang landai, di dataran lumpur/pasir
2.Pada batas terendah daerah pasang surut dekat hutan bakau atau di dataran terumbu karang
3.Mampu hidup sampai kedalaman 30 meter, di perairan tenang dan terlindung
4.Sangat tergantung pada cahaya matahari yang masuk ke perairan
5.Mampu melakukan proses metabolisme secara optimal jika keseluruhan tubuhnya terbenam air termasuk daur generatif
6.Mampu hidup di media air asin
7.Mempunyai sistem perakaran yang berkembang baik

2.5.Favia
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Subkingdom : Radiata
Infrakingdom : Coelenterata
Phylum : Cnidaria
Subphylum Anthozoa
Class : Anthozoa
Subclass : Zoantharia
Order : Scleractinia
Suborder : Faviina
Family : Faviidae
Karakteristik bentuk rangka kapur genus Favia antara lain ialah:
Bentuk koloni umumnya masif, flat atau dome-shaped.
Koralit sebagian besar monocentric (satu columella dalam satu corallite)
dan plocoid.
Memperbanyak koralit melalui pembelahan intratentacular.
Tentakel umumnya keluar hanya pada malam hari.
Struktur rangka kapur genus Favia mirip dengan genus Favites tapi dapat
dibedakan dengan perbedaan tipe koralit karang.
Tipe koralit Favites tergolong ceroid, sedangkan tipe koralit Favia tergolong plocoid.
Favia Ini adalah karang soliter umumnya ditemukan di daerah di mana tidak banyak bentuk kehidupan lainnya tumbuh. Hal ini menarik untuk pemberitahuan. Memang mereka ditemukan di air keruh nyata dan kualitas rendah yang membuat mereka ideal untuk akuarium tentu saja. Bahkan, air di akuarium Anda sering mungkin lebih baik daripada kualitas air karang ini ditemukan. Berbentuk agak bundar dalam bentuk dan tampak seperti setengah bola (sebagian besar dari mereka), mereka mudah untuk mengenali (kecuali mungkin untuk spesies Favites erat terkait) yang terlihat sangat banyak yang sama tetapi diklasifikasikan sebagai karang yang berbeda.


2.6.Ikan Karang dan Gastropoda
Terumbu karang merupakan tempat tinggal dan berkembaang biak serta mencari makan bagi gastropoda dan ikan karang.

2.7.Nudibranch
Merupakan makhluk paling berwarna-warni di bumi. Karena spesies ini telah berevolusi dengan menghilangkan cangkang.Habitat mereka hampir terdapat di seluruh dunia pada semua kedalaman, tetapi mereka mencapai ukuran terbesar dan bervariasi pada perairan hangat dan dangkal. Mereka adalah spesies benthonic, tinggal di hampir setiap bawah laut dan dapat ditemukan di seluruh dunia, dari Antartika ke daerah tropis, bahkan di pantai kita.

2.8.Death Coral Algae
Merupakan karang mati yang sudah tidak dapat bekembang lagi. Keberadaan koral ini memiliki peran yang sama halnya bengan bebatuan yang ada di laut yaitu sebagai pelengkap dalam ekosistem dan biasanya koral mati ini digunakan tempat bersembunyi dari para predator oleh binatang-binatang kecil dan biota bentik.

2.9.Interaksi yang terjadi di dalam ekosistem terumbu karang
Terumbu karang bukan merupakan sistem yang statis dan sederhana, melainkan suatu ekosistem yang dinamis dan kompleks.  Tingginya produktivitas primer di ekosistem terumbu karang, bisa mencapai 5000 g C/m2/tahun, memicu produktivitas sekunder yang tinggi, yang berarti komunitas makhluk hidup yang ada di dalamnya sangat beraneka ragam dan tersedia dalam jumlah yang melimpah. Berbagai jenis makhluk hidup yang ada di ekosistem terumbu karang saling berinteraksi satu sama lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, membentuk suatu sistem kehidupan.  Sistem kehidupan di terumbu karang dapat bertambah atau berkurang dimensinya akibat interaksi kompleks antara berbagai kekuatan biologis dan fisik. Secara umum interaksi yang terjadi di ekosistem terumbu karang terbagi atas interaksi yang sifatnya sederhana, hanya melibatkan dua jenis biota (dari spesies yang sama atau berbeda), dan interaksi yang bersifat kompleks karena melibatkan biota dari berbagai spesies dan tingkatan trofik.

2.10.Indek Keanekaragaman dan Indek Dominansi
Keterangan : Full (F)=7-10 spesies
1/2 =5-6 spesies
1/4 =3-4 spesies
1/8 =2 spesies
1/16 =1 spesies

Data Pada Setiap Pengamatan :

Biota

ni
(n ke-i)
Kapasitas pada transek
jumlah /spesies


P1
PII
PIII
PI
PII
PIII
Lamun
n-1
-
1/2
ff
-
6
11
DCA
n-2
1/16
1/8
¼
1
2
3
DC
n-3
f
f
f
9
12
11
Gardineroseris
n-4
1/16
1/16
-
1
1
-
Favia
n-5
-
1/16
1/16
-
1
1
Ikan Karang
n-6
-
1/16
-
-
1
-
Nudibranch
n-7
-
1/16
-
-
1
-
Porites
n-8
1/16
1/16
1/8
1
1
2
Platygyra
n-9
1/16
-
-
1
-
-
Total Keseluruhan(N)
13
25
28





Indeks keanekaragaman


Klasifikasi :
H’ < 1 : Indeks Keanekaragaman rendah
1 ≤ H’ ≤ 3 :Indeks Keanekaragaman sedang
H’ >3 :Indeks keanekaragaman tinggi

Pengamatan 1
H’ = ( 1/13 ) + (9/13 ) + ( 1 /13 ) + ( 1/ 13 ) + (1 / 13 )
ln(1/13) ln (9/13) ln(1/13) ln(1/13) ln(1/13)

= 0.029 + 1.88 + 0.029 + 0.029 + 0.029
= -1.996
Hasil H’ = 1.996
1 ≤ H’ ≤ 3 : indeks keanekaragaman Sedang
Pengamatan II
H’ = ( 6/25 ) + (2/25 ) + ( 12 /25 ) + ( 1/ 25 ) + (1 / 25 ) + (1/25) + (1/25)+ (1/25)
ln(6/25) ln (2/25) ln(12/25) ln(1/25) ln(1/25) (1/25) (1/25) (1/25)

= 0.168 + 0.056 + 0.653 + 0.012 + 0.012 + 0.012 + 0.012 + 0.012
= 0.937
Hasil H’ = 0.937
H’ <1 : Indeks keanekaragaman rendah

Pengamatan III
H’ = ( 11/28 ) + (3/28 ) + ( 11 /28 ) + ( 1/ 28 ) + (2 / 28 )
ln(11/28) ln (3/28) ln(11/28) ln(1/28) ln(2/28)

= 0.42 + 0.047 + 0.42 + 0.01 + 0.01
= 0.907
Hasil H’= 0.907
H’<1 : Indeks keanekaragaman rendah

Indeks dominansi

Klasifikasi :
C < 0,5 :Dominansi rendah
0,5 ≤ C ≤ 1 :Dominansi sedang
C > 1 :Dominansi tinggi
Pengamatan I
C = (1/13)² + (9/13)²+ (1/13) ² + (1/13)² + (1/13 )²
= 0.11 + 0.47 + 0.0005 + 0.0005 + 0.0005
= 0.5815
Hasil C =
0.5 ≤ C ≤ 1 Dominansi sedang

Pengamatan II
C = (6/25)² + (2/25)² + (12/25)²+ (5/25)² + (1/25)² + (1/25)² + (1/25)² + (1/25)²
= 0.05 + 0.0006 + 0.23 + 0.04 + 0.0001 + 0.0001 + 0.0001 + 0.0001
Hasil C = 0.321
C< 0,5 Dominansi rendah

Pengamatan III
C = ( 11/28)² + (3/28)² + (11/28)² + (1/28)² + (2/28)²
= 0.15 + 0.01 + 0.15 + 0.0001 + 0.0005
= 0.3106
Hasil C = 0.3106
C < 0,5 Dominansi rendah












BAB V
PENUTUP

1.KESIMPULAN
Meskipun telah banyak metode survei pada saat ini, namun masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga dapat dikatakan belum ada suatu metode yang memuaskan. Ada beberapa alasan yang menyebabkan sulitnya menggambarkan suatu kondisi terumbu karang dengan metode survei yang ada saat ini antara lain, terumbu karang yang tumbuh di tempat geografis yang berbeda mempunyai tipe yang berbeda, ukuran individu atau koloni sangat bervariasi dari beberapa centimeter hingga beberapa meter, satu koloni karang dapat terdiri beberapa individu sampai jutaan individu, bentuk pertumbuhan sangat bervariasi seperti bercabang, masif, merayap, seperti daun, dan sebagainya, tata nama jenis karang masih relatif belum stabil dan adanya perbedaan jenis yang hidup pada lokasi geografis yang berbeda, serta adanya variasi morfologi dari jenis yang sama yang hidup pada kedalaman yang berbeda maupun tempat yang berbeda.


5.2 SARAN
Saat praktikum di lapangan pengarahan dari asisten sudah baik. Diharapkan waktu istirahat diantara praktikum lapangan dan praktikum laboratorium lebih lama, agar praktikum laboratorium dapat berjalan secara kondusif.







DAFTAR PUSTAKA

Dahuri, Rokhmin; Rais J.; Ginting S.P. dan Sitepu M.J., 2001. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Pradnya Paramita. Jakarta. 328 p.
http://ma Kikuchi dan J.M. Peres. 1977. Consumer ecology of seagrass beds, pp. 147-193. In P.
Marinedivingclub.wordpress.com
McRoy and C.Helferich (eds). Seagrass ecosystem. A scientific perspective. Mar.Sci.Vol 4.Marcel Dekker Inc, New York.
Munasik, 2009. Konservasi terumbu karang. Semarang : Badan Penerbit UNDIP.
Suharsono, 1996. Jenis-jenis Karang yang Umum dijumpai di Perairan Indonesia. Puslitbang Oseanologi – LIPI. Jakarta.
Supriharyono. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 247 p.
Veron. J.E.N. 1986. Coral of Australia and The Indofasific. Angus & Robertos. Australia.
www.wikipedia.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar