Selasa, 15 Juni 2010

Zooplankton I dan II

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Dalam perairan laut ditemukan berbagai macam spesies kehidupan bawah laut yang menakjubkan. Lautan dan samudera memiliki luas mencapai 70 % dari permukaan bumi. Wilayah yang sedemikian luasnya merupakan komponen penyumbang terhadap keberadaan dan keanekaragaman sumberdaya. Untuk itu plankton sebagai komponen dasar dalam suatu lingkungan laut dapat dijadikan parameter dalam pemantauan kualitas lingkungan perairan. Aspek yang dapat dilihat meliputi kuantitas dan kualitas plankton. Aspek kualitas meliputi pemahaman tentang plankton yang berkaitan dengan keberadaan jenis plankton yang menimbulkan bencana terhadap lingkungan sekitarnya atau terhadap manusia sebagai konsumen langsung organisme sebagai makanan. Aspek kuantitas meliputi pemahaman terhadap fungsi dan tingkat kemampuan perairan sebagai pendukung kehidupan organisme air. Pemahaman ini berhubungan erat dengan penilaian perairan yang berfungsi sebagai daerah perikanan potensial baik sebagai daerah penangkapan ikan maupun sebagai tempat budidaya laut.
Dalam sumber daya perairan dapat ditentukan tinggi rendahnya tingkat potensial berdasarkan tingkat produktivitas suatu perairan yang dilatar belakangi oleh kajian fisik, kimiawi maupun hayati. Sedangkan plankton adalah termasuk dalam kajian fisik hayati. Dimana plankton bertindak produser utama dari bahan - bahan anorganik, melalui proses fotosintesa, dan pada beberapa biota bertindak sebagai konsumer tingkat pertama pada jaring - jaring makanan di perairan.
Berubahnya fungsi perairan sering disebabkan oleh perubahan struktur dan nilai kuantitatif plankton. Perubahan ini dapat disebabkan oleh karena kegiatan ala maupun manusia, seperti adanya signifikasi konsentrasi unsur hara secara sporadis sehigga dapat menimbulkan peningkatan nilai nilai kuantitas plankton melampaui batas normal yang dapat ditolerir oleh organisme lain. Kondisi ini dapat menimbulkan dampak negatif berupa kematian massal organisme perairan akibat persaingan penggunaan oksigen terlarut seperti yang terjadi pada periairan dunia dan beberapa perairan Indonesia.
2.TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah dengan adanya praktikum planktonologi ini praktikan diharapkan dapat:
1. Mengetahui Bentuk dan jenis dari fitoplankton
2. Mengetahui ciri-ciri dari fitoplankton yang ditemukan
3. Dapat membedakan fitoplankton dan zooplankton
4. Agar mahasiswa yang melakukan praktikum mengetahui bagaimana cara melihat atau mengamati plankton dari mikroskop.
5. Agar mahasiswa yang melakuakn praktikum mengetahui bagaimana cara
mengidentifikasi species Plankton
6. Agar mahasiswa yang melakukan praktikum mengetahui dan bisa melakukan
klasifikasi Plankton.

3.MANFAAT
1.Mahasiswa dapat membedakan zooplankton dan fitoplankton
2.Dapat mengetahui klasifikasi dan ciri-ciri dari plankton
3.Mahasiswa mengerti tentang cara mengidentifikasi plankton

1.4 WAKTU DAN LOKASI
Waktu : 11.20 – 12.30
Tanggal : 27 Mei 2010
Tempat : Laboratorium Ilmu Kelautan, Tembalang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Plankton
Plankton adalah suatu organisme yang berukuran kecil (mikroskopik) yang jumlahnya sangat banyak dan hidupnya melayang atau bergerak sedikit dan terombang-ambing oleh arus di perairan bebas, mereka terdiri dari mahluk-mahluk yang hidupnya sebagai tumbuhan (fitoplankton) dan sebagai hewan (zooplankton).
Ukuran plankton sangat beraneka ragam. Menurut Omori dan Ikeda (1992) plankton berdasarkan ukurannya, yaitu :
a.ultraplankton, berukuran <2 mm
b.nanoplankton, berukuran diantara 2-20 mm
c.microplankton, berukuran diantara 20-200 mm
d.mesoplankton, berukuran diantara 200 mm – 2 mm
e.macroplankton, berukuran diantara 2-20 mm
f.mikronekton, berukuran diantara 20-200 mm
g.megaplankton (plankton gelatin), berukuran >20 mm

Kelompok ultraplankton hampir seluruhnya terdiri dari bakteri, sedangkan pada kelompok nanoplankton seluruhnya terdiri dari fitoplankton. Zooplankton termasuk dalam kelompok makroplankton dan megaplankton, hanya di dalam kelompok mikroplankton kita dapat menjumpai fito dan zooplankton secara bersama-sama (Hutabarat, 2000).
Dilihat dari siklus hidupnya plankton dibedakan menjadi golongan holoplankton yang terdiri atas bakteri, tumbuh-tumbuhan, hewan yang selama daur hidupnya tetap bersifat sebagai plankton, contohnya bakteri, fitoplankton dan beberapa jenis zooplankton (Copepoda, Rotatoria dan Pteropoda). Sedangkan golongan meroplanton terdiri dari organisme yang bersifat sebagai plankton hanya untuk sebagian daur hidupnya, contohnya larva , udang dan kepiting (Hutaurk, 1984).
Berdasarkan kedalamannya plankton dapat dibagi menjadi :
1.Pleuston, adalah biota plankton yang menempati bagian permukaan air laut, dimana selalu berhubungan dengan udara. Kelompok plankton ini seringkali diklasifikasikan kedalam kategori tersendiri dari plankton dikarenakan pergerakannya lebih banyak dipengaruhi oleh angin dibandingkan dengan arus. Contohnya : Physalia dan Velella ( Hydrozoa ).
2.Neuston, adalah biota plankton yang tinggal pada lapisan permukaan dari kedalaman beberapa sampai dengan 10 millimeter.
3.Epipelagic Plankton, adalah biota plankton yang menempati lapisan perairan sampai dengan kedalaman 300 m pada siang hari.
4.Mesopelagic Plankton, adalah biota plankton yang menempati lapisan perairan diantara 300 sampai dengan 1000 meter pada siang hari.
5.Bathypelagic Plankton, adalah biota plankton yang menempati lapisan perairan diantara 1000 sampai dengan 3000 - 4000 meter pada siang hari.
6.Abyssopelagic Plankton, adalah biota plankton yang menempati lapisan perairan lebih dari 3000 - 4000 meter.
Epibenthic Plankton ( Demersal atau Bottom Living Plankton ), adalah biota plankton yang menempati lapisan perairan mendekati dasar atau secara temporer berkaitan dengan lapisan permukaan dasar

2.2. Zooplankton
Zooplankton disebut juga plankton hewan yang hidupnya mengapung atau melayang di dalam laut. Kemampuan renangnya sangat terbatas sehingga keberadaannya sangat ditentukan kemana arus membawanya. Zooplankton bersifat heterotrofik, yaitu tidak dapat memproduksi bahan makanannya. Jadi zooplankton lebih berfungsi sebagi konsumen bahan organik Zooplankton atau plankton fauna merupakan biota laut dan samudera yang dikenal sebagai produser sekunder maupun konsumer primer. Hal ini dikarenakan zooplankton merupakan pemangsa pertama terhadap phytoplankton dalam sistem jaring – jaring makanan. Selanjutnya zooplankton merupakan mangsa bagi biota – biota laut lain di tropik level diatasnya. Berkaitan dengan fungsi tersebut, zooplankton merupakan komponen penghubung yang penting diantara tropik level diatasnya dengan tropik level dibawahya dalam rantai dan jaring – jaring makanan di laut dan samudera.
Keberadaan zooplankton sebagai produser sekunder dan konsumer primer mempunyai ciri anatomi, morfologi dan fisiologi yang sangat spesifik. Dengan fungsi tersebut, setiap jenis zooplankton mempunyai spesifikasi dan sumbangan yang berbeda. Hal ini terutama karena sebagian dari fase larva biota laut masuk kexdalam tahapan zooplankton. Oleh karenanya pengenalan terhadap ciri dan karakterisitik anatomi, morfologi dan fisiologi sangatlah diperlukan. Hal ini juga terkait dengan proses interaksi diantara zooplankton dengan habitatnya sebagai bagian dari strategi untuk mempertahankan kehidupan. (Rohmimohtarto, 1984).
Peranan zooplankton sebagai produsen sekunder ataupun sebagai konsumen primer sangat besar. Zooplankton sering melakukan gerakan naik turun pada perairan yang disebut sebagai migrasi vertical. Gerakan tersebut dimaksudkan untuk mencari makanan yaitu phytoplankton gerakan naik ke permukaan biasanya dilakukan pada malam hari, sedang gerakan ke dasar perairan dilakukan pada siang hari. Gerakan pada malam hari lebih banyak dilakukan karena adanya variasi makanan yaitu phytoplankton lebih banyak, selain itu dimungkinkan karena zooplankton menghindari sinar matahari langsung. (Nontji, 1993)
Secara umum di laut banyak dijumpai zooplankton kelas Crustacea. Adapun kelas Crustacea terbagi menjadi 8 ordo, yaitu :
a.Cladocera
b.Ostracoda
c.Copepoda
d.Cumacea
e.Sergestidae
f.Mysidacea
g.Amphipoda
h.Euphausida
(Hutabarat & Evans, 1986)


BAB III
MATERI DAN METODE

3.1 Materi
Materi praktikum Planktonologi yaitu “Identifikasi Fitoplankton dalam media mikroskop” .Dengan bahan yang digunakan sebagai berikut :
1.Sampel zooplankton
2.Aquades
3.Formalin dan alcohol

2.Metode Kerja

1. Mengambil sample plankton dari laut yang sudah disediakan oleh asisten praktikum dengan menggunakan pipet tetes.
2. Meneteskan sample yang diambil dengan pipet tetes pada sedwick and rafter.
3. Menutup sedwick and rafter dengan kaca preparat yang lain agar sample tidak tidak hilang.
4. Menempatkan sedwick and rafter yang sudah diberi sample pada meja preparat yang ada pada mikroskop.
5. Melihat plankton yang akan diteliti pada mikroskop.
6. Mengatur lensa, berapa perbesaran yang digunakan.
7. Setelah menemukan plankton yang ada pada kaca preparat kemudian menggambarnya pada secarik kertas dengan menggunakan pensil.
8. Kemudian mengidentifikasinya dengan melihat plankton yang udah digambar dengan mencocockannya dengan buku identifikasi yang ada saat praktikum.







3. Alat dan Bahan
1.Alat
Mikroskop (Digunakan untuk mengamati sampel)
Pipet Tetes (Digunakan untuk mengambil sampel plankton)
Botol Sampel (Digunakan untuk tempat sampel plankton)
Kaca Preparat (Sebagai tempat sampel plankton yang akan diamati)
Buku Identifikasi (Sebagai panduan untuk mengidentifikasi plankton)
Alat Tulis (Digunakan untuk mencatat hasil praktikum)


2.Bahan
Sampel Plankton (Sampel yang akan diamati)
Formalin 4% (Digunakan untuk mengawetkan sampel plankton)
Aquades (Untuk membersihkan kaca preparat dan pipet tetes)
Tissue (Untuk membersihkan kaca preparat










BAB IV
HASIL
 
4.1 GAMBAR
            4.1.1 Paramecium
 
            4.1.2 Rotifer

4.1.3 Radiolaria

4.1.4 Arcella

4.1.5 Cyclops
4.1.6 Coleps




4.1.7 Lucifer




4.1.8 Oithona





4.1.9 Globigarina



4.1.10 Copepoda


4.2 PEMBAHASAN
            4.2.1 Paramecium
Kerajaan: Protista
Filum: Ciliophora
Kelas: Ciliatea
Ordo: Peniculida
Famili: Parameciidae
Genus: Paramecium
Paramecium merupakan salah satu protista mirip hewan. Protista ini berukuran sekitar 50-350ɰm. Paramecium ini telah memiliki selubung inti (Eukariot). Uniknya Protista ini memiliki dua inti dalam satu sel, yaitu inti kecil (Mikronukleus) yang berfungsi untuk mengendalikan kegiatan reproduksi, dan inti besar (Makronukleus) yang berfungsi untuk mengawasi kegiatan metabolisme, pertumbuhan, dan regenerasi. Paramecium bereproduksi secara aseksual (membelah diri dengan cara transversal), dan seksual (dengan konjugasi). Paramecium bergerak dengan menggetarkan silianya, yang bergerak melayang-layang di dalam air. Hal ini akan terlihat jika menggunakan mikroskop. •Sedangkan cara menangkap makanan adalah dengan cara menggetarkan rambut (silianya), maka terjadi aliran air keluar dan masuk mulut sel. Saat itulah bersamaan dengan air masuk bakteri bahan organik atau hewan uniseluler lainnya. memiliki vakuola makanan yang berfungsi untuk mencerna dan mengedarkan makanan, serta vakuola berdenyut yang berguna untuk mengeluarkan sisa makanan.

 
4.2.2 Rotifer
Kerajaan: Animalia
Subkingdom: Eumetazoa
Superfilum: Platyzoa
Filum: Rotifera
Rotifera memiliki simetri bilateral dan berbagai bentuk yang berbeda. Tubuh rotifer yang dibagi ke dalam kepala, batang, dan kaki, dan biasanya agak silindris. Ada yang berkembang dengan baik kutikula , yang dapat tebal dan kaku, memberikan sebuah binatang seperti bentuk kotak, atau fleksibel, memberikan sebuah binatang seperti bentuk cacing; rotifera tersebut masing-masing disebut loricate dan illoricate.kutikula kaku sering terdiri dari beberapa piring, dan mungkin beruang duri, pegunungan, atau ornamen lainnya.
Yang khas sebagian besar fitur rotifera adalah adanya silia struktur, yang disebut korona, di kepala. Dalam spesies yang lebih primitif, ini membentuk sebuah cincin sederhana silia sekitar mulut dari sebuah band yang membentang silia tambahan atas belakang kepala. Pada sebagian besar rotifera, namun ini telah berkembang menjadi struktur yang lebih kompleks.
Modifikasi rencana dasar korona termasuk perubahan silia ke bulu atau jumbai yang besar, dan baik ekspansi atau rugi dari band berbulu mata di sekitar kepala. Dalam genera seperti Collotheca , korona dimodifikasi untuk membentuk saluran sekitar mulut. Pada banyak spesies, seperti Testudinella , yang silia sekitar mulut telah menghilang, meninggalkan hanya dua band lingkaran kecil di kepala. In the bdelloids , Dalam bdelloids , rencana ini lebih lanjut diubah, dengan band atas pemisahan menjadi dua roda berputar, dibangkitkan pada proyeksi alas dari permukaan atas kepala.
Batang pohon membentuk bagian utama dari tubuh, dan sebagian besar membungkus organ internal. Kaki proyek dari bagian belakang bagasi, dan biasanya jauh lebih sempit, memberikan penampilan ekor. Kutikula atas kaki sering bentuk cincin, sehingga muncul tersegmentasi, meskipun struktur internal seragam. Banyak rotifera dapat menarik kembali kaki yang sebagian atau seluruhnya ke dalam bagasi. berakhir di kaki dari satu sampai empat jari kaki, yang pada Sessile dan spesies merangkak, mengandung kelenjar perekat untuk melampirkan hewan untuk dasar tersebut. Dalam spesies yang berenang bebas banyak, kaki secara keseluruhan berkurang dalam ukuran, dan bahkan mungkin tidak ada.

4.2.3 Radiolaria
Kingdom : Plantae
Divisi: Cyanobacteria
Kelas: Cyanophyceae
Bangsa: Nostocales
Suku: Nostocaceae
Genus : Nostoc
Radiolarians (juga radiolaria) adalah amoeboid protozoa yang menghasilkan rumit mineral kerangka , biasanya dengan membagi kapsul pusat sel ke dalam dan luar bagian dalam, disebut endoplasm dan ectoplasm . Mereka ditemukan sebagai zooplankton di laut, dan kerangka mereka tetap menutupi sebagian besar dari dasar laut sebagai cairan radiolaria . Karena mereka cepat berubah-lebih spesies, mereka merupakan suatu yang penting fosil diagnostik ditemukan dari Kambrium dan seterusnya. Beberapa fosil radiolaria umum adalah Actinomma , Heliosphaera dan Hexadoridium .
Radiolarians punya seperti banyak jarum- pseudopodia didukung oleh kumpulan mikrotubulus , disebut axopods , yang membantu radiolaria's apung tersebut. sementara ectoplasm tersebut penuh dengan berbusa vakuola dan lipid tetesan, membuat mereka ceria. Seringkali juga mengandung simbiosis alga, terutama zooxanthellae , yang menyediakan sebagian besar energi sel. Beberapa organisasi ini ditemukan antara heliozoa , tapi kurangnya pusat kapsul tersebut dan hanya menghasilkan skala sederhana dan duri.
Utama kelas dari radiolarians adalah Polycystinea , yang memproduksi silikous tengkorak. Ini termasuk mayoritas fosil. Mereka juga termasuk Acantharea , yang menghasilkan kerangka strontium sulfat . Meskipun beberapa saran awal untuk sebaliknya, studi genetika tempat kedua kelompok berdekatan. Mereka juga termasuk genus aneh Sticholonche , yang tidak memiliki kerangka internal dan biasanya dianggap sebagai sebuah heliozoan.
Tradisional radiolarians juga termasuk Phaeodarea , yang menghasilkan kerangka silikous tetapi berbeda dari polycystines dalam hal-hal lainnya. Namun, di pohon-pohon molekul mereka cabang dengan Cercozoa , berbagai kelompok termasuk menyalahi dan amoeboid protista. radiolarians lainnya muncul dekat, tetapi di luar, yang Cercozoa, sehingga kesamaan tersebut mungkin karena sebagian untuk nenek moyang bersama dan sebagian untuk evolusi konvergen . The radiolarians dan Cercozoa termasuk dalam supergrup disebut Rhizaria .
4.2.4 Arcella
Kerajaan: Amoebozoa
Kelas: Tubulinea
Order: Arcellinida
Keluarga: Arcellidae
Genus: Arcella 
Arcella adalah genus dari amuba pewaris atau Arcellinida, biasanya ditemukan di freshwaters dan lumut , dan jarang di tanah. Karakteristik kunci dari Arcella adalah melingkar uji dengan lubang di tengahnya dari mana-seperti pseudopods jari muncul. Ini adalah salah satu dari genera testacean terbesar. Sebuah Arcella biasanya dibungkus dalam chitinous , payung berbentuk tes (atau shell) yang memiliki kecepatan rana pusat tunggal melalui mana pseudopods - yang digunakan untuk bergerak - memperpanjang keluar. Pada beberapa spesies kecepatan rana yang dikelilingi oleh cincin dari pori-poriTes ini terdiri dari bahan organik dengan diameter sampai 300 μm dan transparan atau cahaya berwarna kuning-Arcella muda, tapi cokelat sementara akibat penuaan progresif pengendapan besi dan mangan senyawa. Bertentangan dengan genera lain , tidak ada chip kerikil atau benda asing lainnya dimasukkan untuk memperkuat perumahan.
Spesies yang berbeda dari Arcella dapat memiliki nomor yang berbeda dari inti, mulai dari inti tunggal, seperti di beberapa A. hemisphaerica, hingga 200 inti, seperti di A. megastoma , meskipun mayoritas adalah berinti dua. Mereka juga memiliki banyak vakuola kontraktil , dan dapat mengembangkan vakuola karbon dioksida di sitoplasma mereka untuk mengambang ke permukaan air.
4.2.5 Cyclops
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Ordo : Maxillopoda
Family : Copepoda
Genus : Cyclopidae
Spesies : Cyclops sp

Cyclops adalah genus dari krustasea air tawar kecil (copepoda) ditandai dengan sebuah titik mata tunggal pada segmen kepala Cyclops sp.. Juga fitur antena, tubuh tersegmentasi, 5 pasang kaki, dan ekor "dibagi" disebut furca sebuah. Meskipun terlihat seperti Cyclops copepoda Diaptomus, karakteristik yang membedakan adalah bahwa Cyclops betina membawa dua kantung telur. Ada lebih dari 100 jenis Cyclops, paling berkisar antara 1-5 mm panjang, dan biasanya omnivora yang makan pada ganggang, dan organisme kecil lainnya yang bahkan dapat mencakup larva ikan goreng dan melemah. Meskipun lebih cepat daripada berukuran hampir sama Daphnia , Cyclops merupakan bagian penting dari sistem ekologi di mana mereka adalah mangsa alami benih ikan besar, ikan kecil, dan organisme air lainnya seperti hydras, dan White Larva Nyamuk ini. Cyclops juga penting dalam siklus hidup banyak air tawar seperti cestodes parasit (cacing pita), dan nematoda (cacing gelang).

4.1.6 Coleps

Kingdom : Animalia
Phylum : Ciliophora
Class : Ciliatea
Subclas : Holotrichia
Order : Gymnostomatida
Family : Colepidae
Genus : Coleps
Sebagian besar cukup umum ditemukan di air tawar. Tubuh tampaknya tertutup l apisan pelat, agak mirip barel.

4.2.7 Lucifer
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Family : Luciferidae
Genus : Lucifer sp.
Lucifera sp.memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Berbentuk seperti larva udang, memiliki kaki renang, terdapat antena
Ukurannya sama dengan protozoa dan acetes tetapi relatif lebih kurus. Ciri khasnya adalah telson yang berentuk persegi tanpa percabangan
Ukurannya berkisar antara 8-12 mm. Ketika hidup transparan dan setelah diawetkan buram tubuh pipih dengan tangkai mata yang panjang. Sebelum dewasa memiliki 2 tahap yaitu protozoea dan juvenil. Merupakan anggota zooplankton yang khas di daerah tropik.
Lucifer mempunyai tubuh pipih dengan tangkai mata panjang. Sedangkan pada mata menonjol keluar. Tubuhnya mempunyai 4 segmen metasom. Dan pada kepala terdapat sepasang antenna. (www.itis.gov)
4.2.8 Oithona
Kingdom : Metazoa
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Subkelas : Copepoda
Ordo : Cyclopoida
Genus : Oithona
Ciri-ciri
1.Tonjolan-tonjolan kecil yang terdapat pada ruas pertama urosome sangat baik unuk mengidentifikasi hewan ini, tetapi tonjolan ini sangat sulit untuk dilihat
2.Pada betina urosome terdiri dari 5 ruas pada jantan 6 ruas
3.Panjang berkisar antara 0,5 sanpai 1,5 Mm
4.Habitat
Di perairan laut terbuka.
4.2.9 Globigarina
Kingdom : Animalia
Filum : Foraminifera
Klas : Sarcodina
Ordo : Globigerinida
Genus : Globigerina

Globigerinida adalah grup foraminifera yang ditemukan sebagai plankton maritim. Grup ini meliputi lebih dari 100 genera dan lebih dari 400 spesies. Salah satu genera yang paling penting adalah. Globigerina; pada wilayah luas di samudera terdapat Globigerina ooze (dinamai oleh Murray dan Renard tahun 1873). Protista ini memiliki cangkang.
Para Globigerinida adalah kelompok umum foraminiferans yang ditemukan sebagai laut plankton (kelompok lain terutama bentik). Mereka menghasilkan tes calcareous hialin, dan dikenal sebagai fosil dari Jurassic periode seterusnya. Kelompok ini mencakup lebih dari 100 marga dan lebih dari 400 spesies, yang sekitar 30 spesies yang masih ada. Salah satu marga yang paling penting adalah Globigerina, wilayah yang luas dari dasar laut ditutupi dengan cairan Globigerina [1] (yang ditunjuk oleh Murray dan Renard di 1873), didominasi oleh cangkang foram plankton
Globigerina (kelas Rhizopoda , urutan Foraminiferida ) genus protozoa A yang anggotanya umumnya pelagis , tidak seperti kebanyakan foraminiferans yang benthik spesies. Globigerina memiliki kulit halus lebih dari foraminiferans bentik dan kerang sering duri.

4.2.10 Copepoda
Kingdom :Animalia
Filum :Arthropoda
Upafilum :Crustacea
Kelas :Maxillopoda
Upakelas :Copepoda

Copepoda adalah grup crustacea kecil yang dapat ditemui di laut dan hampir di semua habitat air tawar dan mereka membentuk sumber terbesar protein di samudra.Banyak spesies adalah plankton, tetapi banyak juga spesies benthos dan beberapa spesies kontinental dapat hidup di habitat limno-terestrial dan lainnya di tempat terestrial basah, seperti rawa-rawa.
Copepoda merupakan krustacea yang sangat banyak dijumpai diantara fitoplankton dan pada tingkat tropik yang tinggi pada ekosisitem. Copepoda dewasa berukuran antara 1 dan 5 mm. Tubuh copepoda berbentuk silindrikonikal, dimana anterior lebih lebar. Bagian depan meliputi 2 bagian yakni cephalotoraks (kepala dengan toraks dan segmen toraks ke enam) dan abdomen yang lebih kecil dibandingkan cephalotoraks. Pada bagian kepala memiliki mata di bagian tengah dan antenna yang pada umumnya sangat panjang. Copepoda yang bersifat planktonik pada umumnya suspension feeders (Lavens dan Sorgeloos, 1996).
Siklus Hidup
Copepoda jantan pada umumnya lebih kecil dibandingkan copepoda betina. Selama melakukan reproduksi atau kopulasi, organ jantan berhubungan dengan betina dengan adanya peranan antenna, dan meletakkan spermatopora pada bukaan seminal, yang dilekatkan oleh lem semen khusus. Telur-telur umumnya lebih dekat ke bagian kantung telur. Telur-telur ditetaskan sebagai nauplii dan setelah melewati 5-6 fase nauplii (molting), larva akan menjadi copepodit. Setelah copepodit kelima, akan molting lagi menjadi lebih dewasa. Perkembangan ini membutuhkan waktu tidak kurang dari satu minggu hingga satu tahun, dan kehidupan copepoda berlangsung selama enam bulan sampai satu tahun (Lavens dan Sorgeloos, 1996). Dalam satu siklus hidup copepoda memerlukan waktu selama kurang lebih 6-7 hari (Anindiastuti dkk., 2002).

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Kesimpulan dari data hasil praktikum planktonologi “Identifikasi zooplankton” adalah Tiap jenis plankton memilki ciri-ciri yang berbeda antara yang satu dengan yang lain.Menurut pencapaian hasil yang diperoleh pada praktikum ini, bahwa zooplankton yang didapat kurang beragam. Hasil praktikum planktonologi dominansi zooplankton dari class crustacea antara lain Oithona, Acartia, Copepoda, dan Cyclops. Hal ini mungkin dikarenakan oleh kandungan pengawet yang terkandung di dalam sampel atau juga bisa karena lamanya pengawetan yang menyebabkan fitoplankton yang ada di air tersebut hancur atau sudah rusak.
5.2. Saran
Beberapa saran terkait dengan hasil praktikum planktonologi “Identifikasi Fitoplankton” adalah sebagai berikut:
a.Perlu adanya ketelitian dalam pengidentifikasian khususnya pada saat pengamatan sampel pada mikroskop karena dikhawatirkan terjadi kesalahan dalam membedakan antara zooplankton dan fitoplankton atau antara biota dan kotoran yang ikut terbawa pada saat proses pengamatan sampel.
b.Perlu diperhatikan terkait dengan masalah praktikum yaitu dalam penyediaan sampel sangat terbatas sehingga biota yang ditemukan juga sedikit dan relative sama jenisnya.
c.Perlu adanya penjelasan secara lebih mendalam antara spesies satu dengan yang lain dengan melihat ciri khusus yang dimiliki dari pengamatan yang dilakukan sehingga praktikan tidak hanya sekedar melakukan pengamatan dan menggambar jenis spesies yang ditemukan saja, tetapi juga mampu membedakan antara spesies yang satu dengan yang lain.
d.Perlu diperhatikan masalah praktikum yaitu sebaiknya praktikum dilakukan di kampus jepara dan perlu juga adanya praktikum sampel plankton,agar kita dapat mengetahui sebaran plankton dan agar sampel yang diperoleh juga masih dalam katagori yang bagus ( tidak banyak yang mati )



















DAFTAR PUSTAKA

Hutabarat, S. 2000. Produktifitas Perairan Dan Plankton. Telaah Terhadap Ilmu Perikanan Dan Kelautan. Universitas Dionegoro. Semarang.
Hutabarat, S. dan Evans S. 1996. Pengantar Oceanografi. Universitas Indonesia. Jakarta.
Hutaurk, 1984. Komposisi Dan Kelimpahan Fitoplanktom Serta Produktifitas Primer Di Segara Anakan Cilacap Jawa Tengah. Karya Ilmiah, Fakultas Perikanan IPB. Bogor
R Kasijan .2001. Biologi Laut Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut.Jakarta:Djambatan
Romimohtarto, K dan Sri Juwana., 2001. Biologi Laut; Ilmu Pengetahuan Tentang Biologi Laut. Jakarta: Penerbit Djambatan.

http:// www.wikipedia.org /wiki/plankton/php.htm
http:// www.itis.gov /itis/zooplankton/php.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar