Kamis, 24 Juni 2010

Laporan Biokim Uji lemak

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Lemak merupakan salah satu bahan material organik yang sangat bermanfaat bagi manusia. Lemak juga merupakan sumber energi terbesar yaitu untuk 1 gram lemak menghasilkan 9,3 kalori. lemak terdiri atas unsur-unsur karbon, hidrogen, dan oksigen. Fungsi lemak umumnya yaitu sebagai sumber energi, bahan baku hormon, membantu transport vitamin yang larut lemak, sebagai bahan insulasi terhadap perubahan suhu, serta pelindung organ-organ tubuh bagian dalam.
Dengan mengetahui berbagai manfaat dari lemak kita dapat memanfaatkan segala potensi yang ada dalam lemak tersebut. Oleh karananya dilakukan beberapa uji pada lemak dalam praktikum ini. Pada Praktikum ini di lakukan 3 uji terhadap lemak, yaitu penentuan bilangan penyabunan, penentuan bilangan asam, dan uji kelarutan lemak.
Dalam penentuan bilangan penyabunan dapat di ketahui seberapa besar bilangan saponifikasi dari lemak yang di amati. Dengan mengetahui bilangan saponifikasi dari lemak kita dapat mengetahui seberapa banyak gliserol yang ada di dalam lemak/ minyak. Sedangkan dalam penentuan bilangan asam, dapat diketahui jumlah asam lemak yang terkandung dalam suatu lemak/minyak. Pada dasarnya kedua uji tersebut bermanfaat untuk menentukan besarnya zat-zat penyusun lemak yaitu gliserol dan asam lemak. Lain halnya dalam uji kelarutan, Dalam Uji kelarutan minyak/lemak dapat diketahui apakah minyak dapat larut dalam pelarut polar dan/ atau non-polar.
Dengan mempelajari tentang lemak kita dapat memaksimalkan pemanfaatan dari lemak itu sendiri serta mencegah bahaya yang dapat ditimbulkan olehnya sehingga untuk masa yang akan datang dapat menguntungkan bagi kelangsungan umat manusia sendiri.

1.2 Tujuan
 Mampu menentukan bilangan penyabunan dari lemak
 Mampu menentukan bilangan asam dari lemak
 Megetahui pelarut yang dapat melarutkan lemak dan yang tidak dapat melarutkan


1.3 Manfaat/ Kegunaan
Dengan melakukan praktikum ini manfaat yang dapat kita ambil adalah dapat mengetahui bahwa lemak adalah zat penghasil sabun apabila melalui reaksi tertentu. Selain itu lemak juga hanya dapat larut pada pelarut tertentu. Dengan demikian kita telah mempelajari sifat lemak yang dapat kita kembangkan untuk memperoleh manfaat dari lemak itu sendiri.


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Minyak dan Lemak
Minyak dan lemak merupakan ester asam lemak dan gliserol atau gliserin. Dalam sain dikenal juga dengan nama trigliserida. Dalam ilmu kimia dasar, strukturnya digambarkan sebagai berikut :

Rumus molukulnya dikenal sebagai C3H5(COOR)3 jika gugus alkil adalah sama. Minyak dan lemak merupakan senyawa organik yang sangat penting terdapat dalammakanan, karena dapat langsung dicerna dalam tubuh manusia menjadi sumber energi. Minyak dan lemak tidak hanya dikenal sebagai sumber makan
( Destilasi Asam Lemak IR. M. Yusuf Ritonga Fakultas Teknik Program Ctudi Teknik Kimia Univarsitas Sumatra Utara )

Minyak atau lemak merupakan suatu ester yang banyak terdapat dialam, mempunyai sifat yang sama, yang berbeda hanya wujudnya saja. Minyak umumnya diperoleh dari tumbuhan yang banyak mengandung asam lemak tidak jenuh. Seperti asam linoleat, asam linolenat, dan asam oleat. Asam-asam ini pada suhu kamar berwujud cair karena mempunyai titik cair yang rendah, Contohnya minyak kelapa, minyak kacang tanah,dan minyak kedelai. Minyak yang bersal dari hewan antara lain minyak ikan, semantara itu lemak umumnya diperoleh dari hewan yang banyak mengandung asam lemak jenuh seperti asam palmitat, asam stearat, atau asam laktat yang titik cairnya tinggi sehingga pada suhu kamat wujudnya padat. Contoh lemak dari hewan antara lain Lemak sapi, lemak babi, dan lemak domba. Sedangkan lemak dari tumbuhan antara lain lemak biji coklat
Lemak merupakan jenis lipid sederhan yaitu ester dari asam lemak dengan berbagai alcohol. Sementara itu lemak sendiri adalah lemak persenyawaan ester asam lemak dan gliserol. Lemak dalam bentuk cair disebut minyak. Lemak larut dalam pelarut organic tetapi tidak larut dalam air.
Struktur kimia dari lemak adalah
H2C-O-COR1

HC-O-COR2

H2C-O-COR3

Ester asam lemak dialam terdapat dalam bentuk ester antara gliserol dengan asam lemak ataupun terkadang ada gugus hidroksilnya yang teresterkan tidak dengan asam lemak tetapi dengan phospat seperti pada phospolipid. Disamping itu ada juga ester antara asam lemak dengan alkoholnya yang membentuk monoester seperti terdapat pada minyak jojoba. Ester asam lemak sering dimodifikasi baik untuk bahan makan maupun untuk bahan surfaktan, aditif, detergen dan lain sebagainya [Endo, dkk, 1997]. Modifikasi ester asam lemak dapat dilakukan dengan beberapa cara.
a. Esterifikasi





b. Interesterifikasi

c. Alkoholisis

d. Asidolisis

Ketiga reaksi yang terakhir diatas dikelompokkan menjadi reaksi transesterifikasi
[Gandhi,1997].
( Ester Asam Lemak. Juliati Br. Tarigan, S.Si, M.Si Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Jurusan Kimia Universitas Sumatera Utara )

a. Sifat Fisik
 Lemak murni tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa.
 Titik leburnya rendah.
 Titik leburnya masih terlalu rendah daripada temperatur dimana lemak menjadi padat kembali.
b. Sifat Kimia
 Lemak netral tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut – pelarut lemak.
 Titik lebur lemak dapat dipengaruhi oleh banyak atau sedikitnya ikatan rangkap dari asam lemak yang menjadi penyusunnya.
(Poedjiadi, 1994)


2.2 Penamaan lemak dan Minyak
Lemak dan minyak sering kali diberi nama derivat asam-asam lemaknya, yaitu dengan cara menggantikan akhiran at pada asam lemak dengan akhira in , misalnya :
- tristearat dari gliserol diberi nama tristearin
- tripalmitat dari gliserol diberi nama tripalmitin

selain itu , lemak dan minyak juga diberi nama dengan cara yang biasa dipakai untuk penamaan suatu ester, misalnya:
- triestearat dari gliserol disebut gliseril tristearat
- tripalmitat dari gliserol disebut gliseril tripalmitat

2.3 Pembentukan Lemak dan Minyak
Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida dari gliserol . Dalam pembentukannya, trigliserida merupakan hasil proses kondensasi satu molekul gliserol dan tiga molekul asam lemak (umumnya ketiga asam lemak tersebut berbeda –beda), yang membentuk satu molekul trigliserida dan satu molekul air
( Lemak dan Minyak. Netti Herlina, MT & M. Hendra S. Ginting, ST Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara )

2.4 Penggolongan
Senyawa-senyawa yang termasuk lipid dapat dibagi dalam beberapa golongan. Ada beberapa cara penggolongan yang dikenal, Bloor membagi lipid dalam tiga golongan besar yakni:
1. Lipid sederhana, yaitu ester asal lemak dengan berbagai alkohol, contohnya lemak atau gleserida dan lilin (waxes).
2. Lipid Gabungan yaitu ester asam lemak yang mempunya gugus tambahan, contohnya fosfolipid, serebrosida.
3. Derivat lipid yaitu senyawa yang dihasilkan oleh proses hidrolisis lipid, contohnya asam lemak, gliserol, dan sterol.
Disamping itu berdasarkan sifat kimia yang penting, lipid dapat dibagi dalam dua golongan yang besar, yakni lipid dapat disabunkan, contohnya steroid. Bilangan penyabun didefinisikan sebagai jumlah KOH (mg) yang diperlukan untuk menyabunkan 1 gram minyak. Bilangan ini menyatakan indeks berat molekul minyak, jika molekul asam lemaknya berantai pendek maka jumlah gliseridanya semakin banyak sehingga bilangan penyabunannya bertambah besar. Bilangan asam didefinisikan sebagai jumlah (mg) KOH yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas yang dalam 1 gram minyak. Asam lemak babas ini berasal dari proses oksidasi enzimatis selama pengolahan dan penyimpanan.
(Poedjiadi, 1994)
2.4.1 Asam lemak
Asam lemak adalah asam organik yang terdapat sebagai ester trigliserida atau lemak, baik yang berasal dari hewan maupun tumbuhan. Asam ini adalah asam karboksilat yang mempunyai rantai karbon panjang dengan rumus umum:
O
R- C-OH

Dimana R adalah rantai Karbon yang jenuh atau yang tidak jenuh dan terdiri atas 4 sampai 24 buah atom karbon. Rantai karbon yang jenuh ialah rantai karbon yang tidak mengandung ikatan rangkap, sedangkan yang mengandung ikatan rangkap disebut rantai karbon tidak jenuh. Pada umumnya asam lemak mempunyai jumlah atom karbon genap.
Asam lemak adalah asam lemah. Apabila dapat larut dalam air molekul asam lemak akan terionisasi sebagai sebagai dan melepaskan ion H+. Dalam hal ini pH larutan tergantung pada konstanta keasaman dan derajat ionisasi masing-masing asam lemak. (Poedjiadi, 1994)
Ada dua jenis asam lemak yang ada, yaitu asam lemak jenuh dan tak jenuh.
a. Asam lemak jenuh adalah asam lemak yang tidak memiliki ikatan rangkap pad aatom karbon dalam struktur molekulnya. Biasanya asam lemak jenuh memiliki rantai karbon pendek dan titik leburnya rendah. Misalnya asam butirat, asam stearat dan asam palmitat.
b. Asam lemak tak jenuh adalah asam lemak yang memiliki ikatan rangkap pada rantai karbon. Asam ini dapat mengandung suatu ikatan rangkap atau lebih. Adapun ikatan rangkap memungkinkan terjadinya isomorsistrans, misalnya:
 Asam oleat mengandung suatu ikatan rangkap
 Asam linoleat mengandung dua ikatan rangkap
 Asam linolenat mengandung tiga ikatan rangkap
Berdasarkan koesensialnya, maka asam lemak dibedakan menjadi :
a. Asam Lemak Esensial
Asam lemak esensial merupakan asam lemak yang diperlukan oleh tubuh, tetapi tubuh tidak dapat mensitesanya sendiri, sehingga harus didatangkan dari luar tubuh , misalnya : asam linoleat, asam oleat, asam linolenat dan asam aruchidonat.

b. Asam Lemak Nonesensial
Asam lemak nonesensial merupakan asam lemak yang dapat disentesa oleh tubuh, sehingga tidak perlu mendatangkan dari luar tubuh. Namun asam lemak ini hanya dibutuhkan dlam jumlah yang sedikit. Contohnya, yaitu : Asam stearat, asam laurat dan asam palmitat.

2.4.2 Sifat Asam Lemak
1. Makin panjang rantai karbonnya, makin tinggi titik leburnya.
2. Dapat berbentuk cair dan padat.
3. Asam lemak tak jenuh, titik leburnya lebih rendah dari pada asam lemah jenuh.
4. Kelarutan asam lemak dalam air, tergantung pada panjang pendeknya rantai karbon yang menyusunnya.
5. Umumnya larut dalam eter dan alkohol panas.
6. Asam lemak dapat terionisasi.
7. Dapat bereaksi dengan basa membentuk garam.
( Poedjiadi, 1994)

2.4.3 Lemak
Yang dimaksud dengan lemak disini ialah suatu ester asam lemak dengan gliserol. Gliserol ialah suatu trihidroksi alkohol yang terdiri atas tiga atom karbon. Jadi tiap atom karbon mempunyai gugus –OH. Satu molekul gliserol dapat mengikat satu, dua atau tiga molekul asam lemak dalam bentuk ester, yang disebut monogliserida, digliserida atau trigliserida. Pada lemak, sau molekul gliserol mengikat tiga molekul asam lemak, oleh karena itu lemak adalah suatu trigliserida R1-COOH, R2-COOH, R3-COOH ialah molekul asam lemak yang terikat pada gliserol. Ketiga molekul asam lemak itu boleh sama, boleh boleh berbeda. Asam lemak yang terdapat dalam alam ialah palmitat, stearat, oleat dan linoleat.
(Poedjiadi, 1994)

2.4 Bilangan Asam
Banyaknya kalium hidroksida dalam miligram untuk menetralkan 1 gram lemak yang terkandung dalam senyawaan gondorukem
( http://www.dephut.go.id)

2.5 Bilangan Penyabun
Minyak adalah ester asam lemak tidak jenuh dengan gliserol. Melalui proses hidrogenasi dengan bantuan katalis logam Pt atau Ni, asam lemak tidk jenuh diubah menjadi asam lemak jenuh, dan melalui proses penyabunan dengan basa NaOH atau KOH akan terbentuk sabun dan gliserol. Banyaknya kalium hidroksida dalam miligram untuk menyabunkan 1 gram lemak baik asam lemak bebas maupun terikat yang terkandung dalam senyawaan gondorukem
Molekul sabun terdiri atas rantai hidrokarbon dengan gugus ¬–COO- pada ujungnya. Bagian hidrokarbon bersifat hidrofob artinya tidak suka pada air atau tidak mudah larut dalam air, sedangkan gugus ¬–COO- bersifat hidrofil, artinya suka akan air, jadi dapat larut dalam air. Oleh karena adanya dua bagian itu, molekul sabun tidak sepenuhnya larut dalam air, tetapi membentuk misel, yaitu kumpulan rantai hidrokarbon dengan ujung yang bersifat hidrofil di bagian luar.
Sabun digunakan sebagai bahan pembersih kotoran, terutama kotoran yang bersifat seperti lemak atau minyak karena sabun mengemulsikan lemak atau minyak. Jadi sabun dapat berfungsi sebagai emulgator. Pada proses pembentukan emulsi ini, bagian hidrofob molekul sabun masuk ke dalam lemak, sedangkan ujung yang bermuatan negatif ada di bagian luar. Oleh karena adanya gaya tolak antara muatan listrik negatif ini, maka kotoran akan terpecah menjadi partikel-partikel kecil yang membentuk emulsi. Dengan demikian kotoran mudah terlepas dari kain atau benda lain. Sabun mempunyai sifat dapat menurunkan tegangan permukaan air. Hal ini tampak dari timbulnya busa apabila sabun dilarutkan dalam air dan sabun.
(Poedjiadi, 1994)

2.6 Analisa Bahan

a. NaOH
NaOH kristal putih, titik lebur 318oC NaOH - (Caustik soda) sangat korosif menyerang gelas, porcelin, material keramik lainnya Larut dalam air dan juga alkohol Cawan platinum juga diserang oleh uap NaOH

b. Minyak/ lemak
Lemak sama dengan minyak. Orang menyebut lemak secara khusus bagi minyak nabati atau hewani yang berwujud padat pada suhu ruang. Lemak juga biasanya disebutkan kepada berbagai minyak yang dihasilkan oleh hewan, lepas dari wujudnya yang padat maupun cair.1 gram lemak menghasilkan 9,3 kalori. lemak terdiri atas unsur-unsur karbon, hidrogen, dan oksigen

c. Fenolftalein
Fenolftalein adalah indikator titrasi yang lain yang sering digunakan, dan fenolftalein ini merupakan bentuk asam lemah yang lain.

Pada kasus ini, asam lemah tidak berwarna dan ion-nya berwarna merah muda terang. Penambahan ion hidrogen berlebih menggeser posisi kesetimbangan ke arah kiri, dan mengubah indikator menjadi tak berwarna. Penambahan ion hidroksida menghilangkan ion hidrogen dari kesetimbangan yang mengarah ke kanan untuk menggantikannya - mengubah indikator menjadi merah muda.
Setengah tingkat terjadi pada pH 9.3. Karena pencampuran warna merah muda dan tak berwarna menghasilkan warna merah muda yang pucat, hal ini sulit untuk mendeteksinya dengan akurat!

d. Etanol
Etanol atau alkohol etil ialah sebatian kimia yang ditemui di dalam minuman berakohol atau arak. Selain digunakan di dalam arak, etanol juga digunakan sebagai bahan api bagi menggantikan gasolin. Struktur kimia etanol ialah:
H H
| |
H - C - C - O - H
| |
H H
Etanol adalah cairan jernih yang mudah terbakar dengan titik didih 78.5°C dan titik beku pada - 114.5°C. Etanol digunakan sebagai bahan anti-beku dan mempunyai bau vodka.
Etanol bisa digunakan sebagai pembasmi kuman (70% hingga 85% etanol). Larutan tersebut dapat membunuh organisma dengan cara mengubah protein dan melarutkan lipid, dan menghalangi bakteria, fungus, dan virus. Namun, etanol tidak efektif terhadap spora bacteria. Etanol merupakan asam lemah, lebih lemah daripada air dan membentuk ion etanoat ( C2 H5 O)


e. Natrium carbonate
Karbonat sodium adalah suatu garam sodium asam-arang. biasanya terbentuk sebagai kristal heptahydrate suatu monohydrate. sodium karbonat mempunyai rasa seperti alkali pendingin, dan dapat di ekstrak dari banyak tumbuhan. secara sintetis diproduksi dalam jumlah besar dari garam.

f. Alkohol
Alkohol sering dipakai untuk menyebut etanol, yang juga disebut grain alcohol; dan kadang untuk minuman yang mengandung alkohol. Hal ini disebabkan karena memang etanol yang digunakan sebagai bahan dasar pada minuman tersebut, bukan metanol, atau grup alkohol lainnya. Begitu juga dengan alkohol yang digunakan dalam dunia famasi. Alkohol yang dimaksudkan adalah etanol. Sebenarnya alkohol dalam ilmu kimia memiliki pengertian yang lebih luas lagi.
Dalam kimia, alkohol (atau alkanol) adalah istilah yang umum untuk senyawa organik apa pun yang memiliki gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada atom karbon, yang ia sendiri terikat pada atom hidrogen dan/atau atom karbon lain.
Struktur
Gugus fungsional alkohol adalah gugus hidroksil yang terikat pada karbon hibridisasi sp3. Ada tiga jenis utama alkohol - 'primer', 'sekunder, dan 'tersier'. Nama-nama ini merujuk pada jumlah karbon yang terikat pada karbon C-OH. Etanol dan metanol (gambar di bawah) adalah alkohol primer. Alkohol sekunder yang paling sederhana adalah propan-2-ol, dan alkohol tersier sederhana adalah 2-metilpropan-2-ol.


g. Air
Air adalah senyawa antara 2 atom hydrogen dengan 1 atom oksigen. Zar ini mempunyai titik didih 100 0C pada tekan 1 atm dan mempunyai titk beku 0 0C. Pada suhu kamar ( 25 0C. ) zat ini mempunyai bentuk cair.

h. Heksana
Heksana adalah sebuah senyawa hidrokarbon alkana dengan rumus kimia C6H14 (isomer utama n-heksana memiliki rumus CH3(CH2)4CH3). Awalan heks- merujuk pada enam karbon atom yang terdapat pada heksana dan akhiran -ana berasal dari alkana, yang merujuk pada ikatan tunggal yang menghubungkan atom-atom karbon tersebut. Seluruh isomer heksana amat tidak reaktif, dan sering digunakan sebagai pelarut organik yang inert. Heksana juga umum terdapat pada bensin dan lem sepatu, kulit dan tekstil. Dalam keadaan standar senyawa ini merupakan cairan tak berwarna yang tidak larut dalam air.

i. HCl
HCl Merupakan asam kuat yang mudah larut dalam air. Zat ini memiliki bau yang sangat menyengat hidung. Titik didih HCl adalah 80 C sedangkan titik lelehnya -111 C. Karakteristik zat ini yang khas adalah mampu merusak logam-logam mulia.

j. Eter
Eter adalah suatu senyawa yang mengandung satu gugus R—O—R', dimana R= alkil. Satu contoh tipikal adalah satu pelarut dan anestetik dietil eter (etoksietana, CH3-CH2-O-CH2-CH3).

MATERI METODE
3.1 Waktu Pelaksanaan
Praktikum ini dilaksanakan pada
Hari/ tanggal : 4 Juni 2010
Waktu : 09.30-selesai
Tempat : Laboratorium terpadu Ilmu Kelautan, FPIK Undip


3.2 Alat dan Bahan
a. Penentuan Bilangan Penyabunan
No Nama Alat/ Bahan Gambar Fungsi
1 Buret Untuk Menempatkan HCl ketika dilakukan Titrasi
2 Erlenmeyer Untuk Meletakan Minyak / Blanko saat dititrasi
3 Tabung Ukur Untukmengukur Volume Minyak/ Blangko yang akan di gunakan
4 Pipet Untuk mengambil Fenolftalein
5 Kompor Listrik Untuk memanaskan larutan
6 Statif Untuk menyangga buret saat titrasi
7 HCl Sebagai bahan yang akan di gunakan untuk menitrasi
8 NaOH Sebagai larutan Blangko yang digunakan
9 Fenolftalein Sebagai indicator perubahan Ph saat titrasi
Minyak ikan Sebagai sample yang akan di uji

b. Penentuan Bilangan Asam
No Nama Alat/ Bahan Gambar Fungsi
1 Buret Untuk Menempatkan HCl ketika dilakukan Titrasi
2 Erlenmeyer Untuk Meletakan Minyak / Blanko saat dititrasi
3 Tabung Ukur Untukmengukur Volume Minyak/ Blangko yang akan di gunakan
4 Pipet Untuk mengambil Fenolftalein
5 Kompor Listrik Untuk memanaskan larutan
6 Statif Untuk menyangga buret saat titrasi
7 Etanol Sebagai larutan Blangko yang digunakan
8 NaOH Sebagai bahan yang akan di gunakan untuk menitrasi
9 Fenolftalein Sebagai indicator perubahan Ph saat titrasi
Minyak ikan Sebagai sample yang akan di uji


c. Uji Kelarutan Minyak/lemak
No Nama Alat/ Bahan Gambar Fungsi
1 Tabung reaksi Untuk tempat saat minyak dilarutkan
Tabung Ukur Untukmengukur Volume Minyak/ Blangko dan pelarut yang akan di gunakan
Pipet Untuk mengambil Fenolftalein
Heksana Sebagai sampel yang akan di uji daya larutnya terhadap minyak
Aquades Sebagai sampel yang akan di uji daya larutnya terhadap minyak
Alcohol/ etenol Sebagai sampel yang akan di uji daya larutnya terhadap minyak
Na2CO3 Sebagai sampel yang akan di uji daya larutnya terhadap minyak
Minyak ikan Sebagai sample yang akan di uji
3.3 Cara Kerja
a. Penentuan Bilangan Penyabunan
 Masukan 1 gr minyak ke dalam Erlenmeyer
 Menambahkan NaOH metanolat sebanyak 5 ml
 Memanaskan selama 10 menit sambil diaduk, kemudian dinginkan
 Menambahkan 2 tetes fenolftalein
 Menitrasi dengan HCl 0,5 N
 Mencatat volume HCl yang digunakan (V1)
 Melakukan hal yang sama pada larutan Blangko ( NaOH)
b. Penentuan Bilangan Asam
 Masukan 1 gr minyak ke dalam Erlenmeyer
 Menambahkan etanol sebanyak 10 ml
 Memanaskan selama 10 menit pada suhu 80 0C
 Menambahkan 2 tetes fenolftalein
 Menitrasi dengan NaOH 0,1 N
 Mencatat volume NaOH yang digunakan (V1)
 Melakukan hal yang sama pada larutan Blangko ( etanol )
c. Uji Kelarutan Minyak/Lemak
 Mengisi 4 tabung masing-masing 1 ml Heksana, air, alcohol, dan larutan Na2CO3 1%
 Menambahkan pada masing-masing tabung 1 tetes minyak ikan
 Menutup mulut tabung dengan jari dan kocok selama 1 menit
 Membiarkan slama 5 menit
 Mengamati perubahan pada masing-masing tabung







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
3.1.1 Penentuan Bilangan Penyabunan
a. Larutan NaOH + minyak
 Setelah larutan dipanaskan kemudian didinginkan warna larutan putih
 Setelah ditambahkan fenolftalein larutan berwarna merah muda
 Warna larutan setelah dititrasi bening dengan volume HCl yang diperlukan 8,1 ml

b. Larutan Blangko ( NaOH )
 Setelah ditambahkan fenolftalein menjadi merah muda
 Setelah dititrasi warna larutan bening kembali dengan volume HCl yang diperlukan 8,6 ml

Dari hasil diatas diketahui
V1= 14.2 ml
V2=12.2 ml
Jadi bilangan penyabunannya
Bilangan penyabunan =
=
= -5.3

3.1.2 Penentuan Bilangan Asam
Pada penantuan bilangan asam digunakan larytan etanol sebanyak 10 ml.
a. Larutan etanol + minyak
 Larutan awal setelah etanol ditambah minyak berwarna agak keruh dan berwarna tetap setelah di panaskan
 Setelah diambah fenolftalein berwarna putih keruh
 Setelah dititrasi sampai warna larutan menjadi merah muda volum NaOH yang di butuhkan 0,4 ml

b. Larutan Blangko ( etanol )
 Larutan awal bening dan tetap bening setelah di panaskan
 Setelah ditambah fenolftalein berwarna bening
 Setelah dititrasi sampai warna larutan menjadi merah muda volum NaOH yang di butuhkan 1,1 ml

Dari hasil diatas diketahui
V1= 1.3 ml
V2= 1,5 ml
Jadi bilangan asamnya
Bilangan asam =
=
= 0.2

3.1.3 Uji Kelarutan Minyak/ Lemak
Pada percobaan ini pelarut yang akan diuji adalah Na2CO3, Alkohol, Air, dan Heksana. Masing-masing sebanyak 1 ml. Setelah di tambah satu tetes minyak hasilnya :
a. Na2CO3
 Setelah dilakukan Pengocokan selama 1 menit minyak larut
 Setelah 5 menit didiamkan minyak terpisah / tidak larut
b. Alkohol
 Setelah dilakukan Pengocokan selama 1 menit minyak larut
 Setelah 5 menit didiamkan minyak larut
c. Air
 Setelah dilakukan Pengocokan selama 1 menit minyak tidak larut
 Setelah 5 menit didiamkan minyak terpisah / tidak larut
d. Heksana
 Setelah dilakukan Pengocokan selama 1 menit minyak tidak larut
 Setelah 5 menit didiamkan minyak larut

3.2 Pembahasan
3.2.1 Penentuan Bilangan Penyabunan
Dalam penentuan bilangan penyabunan, dilakukan penambahan 1.5 gr minyak ikan kedalam 20 ml NaOH metanolat. Dari hasil pencampuran tersebut dihasilkan warna larutan putih. Hal ini dikarenakan adanya pencampuran dari kedua zat tersebut membentuk suatu larutan. Setelah itu dilakukan pemanasan, dan dihasilkan warna putih keruh. Setelah di tambahkan fenolftalein warna larutan menjadi merah muda. Perubahan warna ini menunjukan larutan tersebut bersifat basa. Pada saat ditambahkan HCl warna larutan yang awalnya merah muda menjadi putih keruh seperti warna semula. Hal ini dikarenakan pH larutan yang awalnya basa telah menjadi netral. Dan volum yang dibutuhkan 14.2 ml.
Pada praktikum yang kami laksanakan nilai dari bilangan penyabunan itu sendiri negatif, hal ini disebabkan tidak samanya jumlah volume PP yang dimasukkan ke dalam campuran larutan yang akan di uji sehingga terjadi suatu perbedaan dari hasil yang diharapkan.
Namun jika hasilnya positif berarti pada praktikum ini akan terjadi reaksi penyabunan antara Minyak dengan NaOH dengan reaksi sebagai berikut :
H2C-O-COR1 CH2OH R1-COONa

HC-O-COR1 + 3 NaOH CHOH + R2-COONa

H2C-O-COR1 CH2OH R3-COONa
Minyak Gliserol sabun
Hal yang sama terjadi pada larutan blangko (NaOH). Larutan ini hanya terdiri dari larutan NaOH saja tanpa di tambahkan minyak. Hal ini bertujuan sebagai pembanding dan darinya dapat diperoleh variable V2. hasil yang diperoleh dari larutan inipun hampir sama yaitu setelah ditambahkan fenolftalein berwarna merah muda. Hal ini jelas diketahui karena NaOH adalah basa kuat. Setelah dititrasi dengan HCl warnanya menjadi benung seperti semula. Hal ini dikarenakan pH larutan yang awalnya basa telah menjadi netral. Dari volum NaOH yang digunakan diketahui V2= 12.2 ml.

3.2.2 Penentuan Bilangan Asam
Dalam penentuan bilangan asam, dilakukan penambahan 4 gr minyak ikan kedalam 10 ml etanol 70%. Dari hasil pencampuran tersebut dihasilkan larutan agak keruh. Hal ini dikarenakan adanya pencampuran dari kedua zat tersebut membentuk suatu larutan. Setelah itu dilakukan pemanasan, dan dihasilkan warna putih keruh. Setelah di tambahkan fenolftalein warna larutan tetap putih keruh, hal ini menunjukan pH larutan bersifat asam. Pada saat ditambahkan NaOH warna larutan yang awalnya putih keruh menjadi merah muda. Hal ini dikarenakan pH larutan yang awalnya asam telah menjadi netral atau basa. Dan volum NaOH yang dibutuhkan 1.3 ml.
Hal yang sama terjadi pada larutan blangko (etanol). Larutan ini hanya terdiri dari larutan etanol saja tanpa di tambahkan minyak. Hal ini bertujuan sebagai pembanding dan darinya dapat diperoleh variable V2. hasil yang diperoleh dari larutan inipun hampir sama yaitu setelah ditambahkan fenolftalein warna larutan tetap bening. Hal ini menunjukan etanol bersifat asam. Setelah dititrasi dengan NaOH warnanya menjadi merah muda. Hal ini dikarenakan pH larutan yang awalnya asam telah menjadi netral atau basa. Dari volum NaOH yang digunakan diketahui V2= 1,5 ml.

Pada kedua praktikum diatas titrasi dilakukan pada dua larutan yang berbeda, yaitu yang menggunakan minyak+ asam / basa dan yang hanya menggunakan asam/ basa saja. Hal ini bertujuan untuk menentukan nilai murni dari minyak itu sendiri. Sebagai contoh jika minyak + asam / basa menghasilkan nilai X, dan asam / basa saja menghasilkan nilai Y maka berarti nilai lemak murninya adalah Y-X. Hal tersebut kemudian dimasukan kedalam rumus untuk memperoleh nilai yang diinginkan.
Pada kedua praktikum tersebut juga menggunakan indicator fenolftalein. Indicator ini pada suasana asam ridak berwarna namun pada suasana asam berwarna merah muda. Asapun pertimbangan digunakannya indicator ini adalah untuk mengetahui seberapa banyak titran yang digunakan untuk membuat larutan yang dititrasi mencapai titik equivalennya. Sedangkan pemanasan dilakukan adalah untuk mempercepat reaksi kimia. Pemanasan ini dapat melarutkan Minyak dengan NaOh metenolat. Ikatan antar molekulnya akan semakin renggang dan akan putus sehingga membentuk ikatan baru

3.2.3 Uji Kelarutan Minyak/ Lemak
Pada Praktikum ini dilakukan uji kelarutan minyak terhadap 5 pelarut yaitu Natrium karbonat, air, alcohol, eter, dan heksana. Dari ke lima pelarut tersebut hanya satu yang menunjukan hasil negatif (tidak melarutkan lemak ) yaitu air, sedangkan empat pelarut lainnya melarutkan lemak. Hal ini dikarenakan air bersifat polar dimana minyak tidak dapat larut oleh senyawa yang polar Hal ini berkaitan dengan strktur lemak yang terdiri dari bagian kepala dan ekor.

O O- H+


ekor ujung polar benci air Kepala ujung non polar suka air
Pada bagian kepala bersifat non polar ( suka air ) sedangkan pada bagian ekor bersifat polar ( benci air ).
Makin panjang ekor, makin benci molekul lipid tersebut terhadap molekul air. Akibatnya, kelarutan dalam dalam air. Makin pendek ekor, makin suka molekul lipid tersebut terhadap molekul air. Akibatnya kelarutannya dalam air akan semakin besar. Sebagai contoh :
Asam butirat ( C4 ) kelarutan dalam air 5,6 %
Asam kaproat ( C6 ) kelarutan dalam air 0,4 %
Bila molekul asam lemak / lipid ada di dalam molekul air ( H2O ) maka ujung polar yang suka air akan mendekat dengan molekul air sedangkan ujung nonpolar yang benci air akan menjauh dari air. Jika satu molekul asam lemak di masukan ke dalam air murni maka molekul asam lemak tersebut akan mengambil posisi sesuai dengan sifatnya.






















BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Dari praktikum diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Lemak adalah ester dari asam lemak dan gliserol
2. Berdasarkan ikatan rangkapnya asam lemak dibagi menjadi 2 yaitu :
• Asam lemak jenuh
• Asam lemak tak jenuh
3. Berdasarkan keesensialannya, asam lemak dibedakan menjadi:
• Asam lemak esensial
• Asam lemak non esensial
4. Bilangan penyabunan adalah jumlah KOH yang diperlukan untuk menyabunkan 1gr lemak
5. Bilangan asam Adalah jumlah KOH yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas dalam 1gr lemak
6. Lemak tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organic

5.2 Saran
• Asistem hendaknya memperjelas penggunaan alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum.
• Asisten hendaknya mengontrol kinerja masing – masing praktikan.
• Praktikan hendaknya memahami materi praktikum, sebelum pelaksanaan praktikum.









Daftar Pustaka

Endo, Y., H. Sanae dan F. Kenshiro, 1997, Autooxidation of Synthetic Isomers of
Triacylglycerol Containing Eicosapentaenoic Acid, J.Am.Oil Chem.Soc.,
74, 5, 543 – 548.
Gandhi, N.N., 1997, Application of Lipase, J.Am.Oil Chem.Soc., 74, 6, 621 – 634.
Hawab, H.M. 2003. Pengantar Biokimia.Malang : Bayu media
Lehninger, Albert.1982.Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : Gramedia
Page, David. 1989. Prinsip-prinsip Biokimia. Jakarta : Erlangga
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI Press

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar